Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Museum Tsunami Aceh

Tsunami Aceh di Akhir 2004 telah berdampak besar terhadap banyak aspek dalam kehidupan Masyarakat Indonesia, khususnya wilayah pesisir Barat Sumatera, termasuk Aceh. Tragedi kemanusiaan tersebut juga menyadarkan banyak pihak di seluruh dunia mengenai pentingnya membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana. Khusus bagi wilayah pesisir Barat Sumatera - dari Aceh hingga Lampung, ancaman terbesar yang harus dihadapi masyarakat adalah Gempa Bumi dan Tsunami dari arah Samudera Hindia. Hal ini mendorong inisiatif dari berbagai pihak untuk menyediakan sarana edukasi kesiapsiagaan publik terhadap Tsunami, salah satunya kini terwujud dengan berdirinya Museum Tsunami Aceh.

 

Museum ini dibangun atas inisiatif dari sejumlah lembaga, antara lain Pemerintah Propinsi NAD, Pemerintah Kota Banda Aceh, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, Kementerian ESDM dan Ikatan Arsitek Indonesia. Menurut salah satu penggagasnya, bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat umum tetapi juga menjadi wahana untuk memperingati jatuhnya 120.000 korban jiwa dalam kejadian tersebut. Didirikan dengan dana senilai Rp. 70 miliar, bangunan ini sekaligus berfungsi sebagai pusat evakuasi Tsunami di masa mendatang. Meski telah diresmikan sejak Februari 2008, museum ini baru dibuka untuk umum pada tanggal 8 Mei 2011.

Arsitektur bangunan museum ini didesain oleh arsitek sekaligus dosen ITB, M. Ridwan Kamil. Desain dengan tema 'Rumoh Aceh as Escape Hill' ini terpilih dalam sayembara, setelah mengalahkan 68 desain yang memenuhi kriteria yang ditetapkan panitia. Desain bangunan ini mengadaptasi konsep bangunan rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah tradisional Aceh. Karena itulah, lantai paling dasar dibuat sebagai sebuah ruang terbuka yang dapat berfungsi sebagai ruang publik sekaligus memberi jarak aman terhadap ancaman datangnya gelombang Tsunami.

Motif dinding bagian luar bangunan merupakan adaptasi citra dari tari Saman yang merupakan simbolisasi dari kekuatan, kedisiplinan dan kepercayaan religius masyarakat Aceh. Terdapat sebuah lorong vertikal menjulang di tengah bangunan menyerupai cerobong. Di sekeliling dinding dalam lorong ini terpatri nama-nama korban jiwa saat Tsunami terjadi dan di puncaknya terdapat siluet 'Allah' dalam huruf Arab. Saat memasuki gedung, kita akan melewati lorong menurun dengan air terjun di kedua sisinya, yang memunculkan nuansa kepanikan yang muncul ketika Tsunami terjadi.

Museum Tsunami terbagi menjadi beberapa segmen. Segmen pertama yang berada di lantai dasar berfungsi sebagai wahana memperingati kejadian Bencana Tsunami 2004, berupa ruang display dokumentasi visual dan 'cerobong' berisi nama para korban. Melalui tangga spiral dan sebuah jembatan melintang, kita memasuki segmen kedua yang berada di lantai 2, yaitu wahana edukasi tsunami berupa dokumentasi sejarah tsunami, diorama, berbagai alat peraga sains yang berkaitan dengan peristiwa tsunami dan ruang perpustakaan. Segmen ketiga adalah ruang terbuka di atap gedung yang berfungsi sebagai wahana evakuasi masyarakat ketika Tsunami kembali terjadi. [Ardee/IndonesiaKaya]

Sumber : http://www.indonesiakaya.com | panduanwisata.id

Museum Sejarah Kota Jakarta / Museum Fatahillah



Jl. Taman  Fatahillah  No. 1  Jakarta
Telp.     :  (021) 6929101      
Faks.   : (021) 6902387

Pada masa pemerintahan VOC di Batavia, Museum Sejarah Jakarta mulanya digunakan sebagai gedung Balaikota (Stadhuis). Pada tanggal 27 April 1626, Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623-1627) membangun gedung balaikota baru yang kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan baru selesai pada tanggal 10 Juli 1710 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.

Selain sebagai Balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil, tempat warga beribadah di hari Minggu, dan Dewan Kotapraja (College van Scheppen). Pada tahun 1925-1942 gedung ini juga dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 digunakan pula sebagai Markas Komando Militer Kota (KMK) I yang kemudian menjadi Kodim 0503 Jakarta Barat. Setelah itu pada tahun 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974.

Museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat ini adalah sebuah lembaga museum yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun berdirinya kota Batavia, warga kota Batavia khususnya Belanda mulai tertarik dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1930 didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah kota Batavia. Tahun 1936, Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942), dan dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Museum Oud Batavia ini merupakan lembaga swasta di bawah naungan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada tahun 1778 dan turut berperan dalam mendirikan Museum Nasional. Koleksi-koleksinya kebanyakan merupakan peninggalan-peninggalan masyarakat Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI, seperti mebel, perabot rumah tanngga, senjata, keramik, peta, serta buku-buku.

Pada masa kemerdekaan, Museum Oud Batavia berubah nama menjadi Museum Djakarta Lama dibawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan pada tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974, maka seluruh koleksi dari Museum Djakarta Lama dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta dan ditambah dengan koleksi dari Museum Nasional.

Sedari tahun 1999 Museum Sejarah Jakarta digagas bukan sekedar sebagai tempat untuk merawat dan memamerkan benda yang berasal dari masa penjajahan, tetapi harus bisa menjadi tempat bagi seluruh khalayak untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang sejarah kota Jakarta, serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi. Museum ini berupaya menyediakan berbagai informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih kreatif, serta menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif dan menarik guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya warisan budaya.

Sumber : http://asosiasimuseumindonesia.org | blog.travelkota.com

Pulau Komodo


Pulau Komodo terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo . Pulau Komodo berada di sebelah barat Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape, termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pulau Komodo, tempat hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Pulau Gili Motang, jumlah keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. diperkirakan sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.
Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam, pohon kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak (sterculia oblongata) ini di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong
Pulau Komodo  sangat mengesankan , menelusuri pulau yang eksotis, menyelami birunya laut, dan bermandikan cahaya mentari sambil melihat jejak-jejak kehidupan masa lalu yang terpelihara dan akan  menjadi bagian dari ragam keindahan Indonesia.
Taman Nasional Komodo
Meliputi Pulau Komodo, Rinca and Padar, ditambah pulau-pulau lain seluas 1.817 persegi adalah habitat asli komodo.
Taman Nasional Komodo didirikan pada 1980 untuk melindungi kelestarian komodo. Tak hanya hewan langka tersebut, Taman Nasional Komodo juga untuk melindungi berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan satwa, termasuk binatang-binatang laut.
UNESCO mengakui sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986. Bersama dua pulau besar lainnya, yakni Pulau Rinca dan Padar, Pulau Komodo dan beberapa pulau kecil di sekitarnya terus dipelihara sebagai habitat asli reptil yang dijuluki “Komodo”.
Sejarah
Komodo yang dijuluki Komodo dragon atau Varanus Komodoensis atau nama lokal “Ora”, kadal raksasa ini menurut cerita dipublikasikan pertama kali pada tahun 1912 di harian nasional Hindia Belanda. Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor adalah orang yang telah mengenalkan komodo kepada dunia lewat papernya itu. Semenjak itu, ekspedisi dan penelitian terhadap spesies langka ini terus dilakukan, bahkan dikabarkan sempat menginspirasi Film KingKong di tahun 1933. Menyadari perlunya perlindungan terhadap Komodo di tengah aktivitas manusia di habitat aslinya itu, pada tahun 1915 Pemerintah Belanda mengeluarkan larangan perburuan dan pembunuhan komodo.
Pulau Komodo masuk 28 finalis yang dipilih oleh sebuah panel ahli dari 77 nominasi. Sebelumnya ada 261 lokasi di dunia yang dicalonkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Pulau Komodo, yang jadi andalan Indonesia dalam ajang New7Wonders of Nature punya keunggulan di banding lokasi-lokasi lainnya, apalagi kalau bukan komodo, satwa langka yang dipercaya sebagai ‘dinosaurus terakhir di muka bumi’.
Kampanye ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai alam, tak hanya yang ada di lingkungan kita tapi juga di seluruh dunia. serta didedikasikan untuk generasi di masa depan.
 
Komodo yang dikenal dengan nama ilmiah Varanus komodoensis adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Oleh penduduk setempat, komodo kerap disebut Ora.
Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.
Komodo ditemukan pada 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional didirikan untuk melindungi mereka.

 
Sebenarnya daya tarik Taman Nasional Komodo tidak semata-mata oleh kehadiran Komodo belaka. Seperti yang saya kutip dari situs resmi Kementerian Kehutanan yang mengelola situs Taman Nasional Komodo ini, panorama savana dan pemandangan bawah laut merupakan daya tarik pendukung yang potensial. Wisata bahari misalnya, memancing, snorkeling, diving, kano, bersampan. Sedangkan di daratan, potensi wisata alam yang bisa dilakukan adalah pengamatan satwa, hiking, dan camping. Mengunjungi Taman Nasional Komodo dan menikmati pemandangan alam yang sangat menawan merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.
4. Pulau Komodo dengan Keindahannya
Pulau Komodo dengan Keindahannya:
 
 
 

 
 

Sumber : https://wisatanusatenggara.wordpress.com

Suku Asmat

Nama Asmat dikenal dunia sejak tahun 1904. Tercatat pada tahun 1770 sebuah kapal yang dinahkodai James Cook mendarat di sebuh teluk di daerah Asmat. Tiba-tiba muncul puluhan perahu lesung panjang didayungi ratusan laki-laki berkulit gelap dengan wajah dan tubuh yang diolesi warna-warna merah, hitam, dan putih. Mereka ini menyerang dan berhasil melukai serta membunuh beberapa anak buah James Cook. Berabad-abad kemudian pada tepatnya tanggal 10 Oktober 1904, Kapal SS Flamingo mendarat di suatu teluk di pesisir barat daya Irian jaya. Terulang peristiwa yang dialami oleh James Cook dan anak buahnya. Mereka didatangi oleh ratusan pendayung perahu lesung panjang berkulit gelap tersebut. Namun, kali ini tidak terjadi kontak berdarah. Sebaliknya terjadi komunikasi yang menyenangkan di antara kedua pihak. Dengan menggunakan bahasa isyarat, mereka berhasil melakukan pertukaran barang.
 
Sejak itu, orang mulai berdatangan ke daerah yang kemudian dikenal dengan daerah Asmat itu. Ekspedisi-ekspedisi yang pernah dilakukan di daerah ini antara lain ekspedisi yang dilakukan oleh seseorang berkebangsaan Belanda bernama Hendrik A. Lorentz pada tahun 1907 hingga 1909. Kemudian ekspedisi Inggris dipimpin oleh A.F.R Wollaston pada tahun 1912 sampai 1913.
Suku Asmat yang tersebar di pedalaman hutan-hutan dikumpulkan dan ditempatkan di perkampungan-perkampungan yang mudah dijangkau. Biasanya kampung-kampung tersebut didirikan di dekat pantai atau sepanjang tepi sungai. Dengan demikian hubungan langsung dengan Suku Asmat dapat berlangsung dengan baik. Dewasa ini, sekolah-sekolah, PUSKESMAS (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan rumah-rumah ibadah telah banyak juga didirikan peemrintah dalam rangka menunjang pembangunan daerah dan masayarakat Asmat.
  • Asal Usul Suku Asmat
Menurut Pastor Zegwaard, seorang misionaris Katolik berbangsa Belanda, orang-orang Asmat mempercayai bahwa mereka berasal dari Fumeripits (Sang Pencipta). Konon, Fumeripits terdampar di pantai dalam keadaan sekarat dan tidak sadarkan diri. Namun nyawanya diselamatkan oleh sekolompok burung sehingga ia kembali pulih. Kemudian ia hidup sendirian di sebeuah daerah yang baru. Karena kesepian, ia membangun sebuah rumah panjang yang diisi dengan patung-patung dari kayu hasil ukirannya sendiri. Namun ia masih merasa kesepian, kemudian ia membuat sebuah tifa yang ditabuhnya setiap hari.
Tiba-tiba, bergeraklah patung-patung kayu yang sudah dibuatnya tersebut mengikuti irama tifa yang dimainkan. Sungguh ajaib, patung-patung itu pun kemudian berubah menjadi wujud manusia yang hidup. Mereka menari-nari mengikuti irama tabuhan tifa dengan kedua kaku agak terbuka dan kedua lutut bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Semenjak itu, Fumeripits terus mengembara dan di setiap daerah yang disinggahinya, ia membangun rumah panjang dan menciptakan manusia-manusia baru yang kemudian menjadi orang-orang Asmat seperti saat ini. Bentuk tubuh orang Asmat berbeda dengan penduduk lainnya yang berdiam di pegunungan tengah atau di nagian pantai lainnya.
Tinggi badan kaum laki-laki antara 1,67 hingga 1,72 meter, sedangkan kaum perempuan tingginya antara 1,60 hingga 1,65 meter. Ciri-ciri bagian tubuh lainnya adalah bentuk kepala yang lonjong (dolichocephalic), bibir tipis, hidung mancung, dan kulit hitam. Orang Asmat pada umumnya tidak banyak menggunakan kaki untuk berjalan jauh, oleh karena itu betis mereka terlihat menjadi kecil. Namun, setiap saat mereka mendayung dengan posisi berdiri sehingga otot-otot tangan dan dadanya tampak terlihat tegap dan kuat. Tubuh kaum perempuan kelihatan kurus karena banyaknya perkerjaan yang harus mereka lakukan.
Suku Asmat berdiam di daerah-daerah yang sangat terpencil dan daerah tersebut masih merupakan alam yang ganas (liar). Mereka tinggal di pesisir barat daya Irian jaya (Papua). Mulanya, orang Asmat ini tinggal di wilayah administratif Kabupaten Merauke, yang kemudian terbagi atas 4 kecamatan, yaitu Sarwa-Erma, Agats, Ats, dan Pirimapun. (Saat ini Asmat telah masuk ke dalam kabupaten baru, yaitu kabupaten Asmat.
Jumlah penduduk di daeah Asmat tidak diketahui dengan pasti. Diperkirakan pada tahun 2000 ada kurang lebih 70.000 jiwa, 9.000 di antaranya bermukim di Kecamatan Pirimapun. Pertambahan penduduk sangat pesat, berkisar antara 28 samapi 84 jiwa setiap 1.000 orang.
Secara keseluruhan, angka kelahiran di pedalaman adalah 13 persen, di pesisir 9 persen. Angka kematian pun cukup tinggi, yaitu berksiar antara 21 sampai 45 jiwa tiap 1.000 orang. Pada jaman dahulu, rata-rata dua setengah persen kematian orang Asmat disebabkan oleh peperangan antar kelompok atau antar desa. Seiring berkembangnya jaman, saat ini penyebab kematian anak-anak dan bayi, terutama pada bulan-bulan pertama banyak disebabkan oleh pneumonia, diare, malaria, dan penyakit campak.
Perkampungan orang Asmat yang jumlahnya tidak kurang dari 120 buah tersebar dengan jarak yang saling berjauhan. Kampung mereka didirikan dengan pola memanjang di tepi-tepi sungai dan dibangun sedemikian rupa sehingga mudah mengamati musuh. Sedikitnya ada 3 kategori kampung bila dilihat dari jumlah warganya. Kampung besar, yang umumnya terletak di bagian tengah, dihuni oleh sekitar 500-1000 jiwa. Kampung di daerah pantai, rata-rata dihuni oleh sekitar 100-500 jiwa. Kampung di bagian hulu sungai, jumlah warganya lebih kecil , berpenduduk sekitar 50-90 jiwa.
Suku Asmat mempunyai kebiasaan dan adat istiadat yang khas diantaranya membuat ukiran tanpa ada sketsa dulu. Ukiran-ukiran yang dibuat oleh orang Asmat memiliki makna sebagai persembahan atau ucapan rasa syukur kepada nenek moyang. Mengukir adalah jalan untuk berinteraksi dengan leluluhur. Pesta Bis, Pesta Perah, Pesta Ulat Sagu dan pesta Topeng sebagai bentuk upaya menghindarkan diri dari musibah dan marabahaya. Selain itu, Suku Asmat juga suka berhias.

Sumber : http://kebudayaanindonesia.net/

Upacara Kasada

 
Obyek Wisata Gunung Bromo letak geografisnya tepat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Provinsi Jawa Timur, yaitu adalah salah satu di antara obyek wisata paling favorit didunia. Wisata Gunung Bromo, selain memiliki keunikan pesona alam yang indah dan mengagumkan berupa lautan pasir Bromo, asap putih yang keluar dari kawah Bromo, padang rumput savannah yang menghampar hijau, di Gunung Bromo juga terkandung budaya luhur dari Suku Tengger yang bermukim di kawasan sekitar Gunung Bromo yaitu upacara Kasada/Yadya Kasada Ceremony.

Budaya luhur dan sampai saat ini dilestarikan oleh suku Tengger sampai saat ini salah satunya adalah upacara Kasada/ Hari Raya Yadnya Kasada, masyarakat sekitar gunung Bromo familiar menyebutnya dengan Kasodoan atau upacara Kasodo.
Upacara Kasada (Hari Raya Yadnya Kasada) atau Kasodo yaitu suatu upacara adat suku Tengger yang dilakukan setiap tahun sekali (penanggalan agama Hindu Tengger) yaitu ketika sudah memasuki bulan Kasada dan tepatnya pada hari ke 14 . Upacara Yadnya Kasada berupa pemberian sesajen untuk sesembahan yaitu Sang Hyang Widhi dan para leluhur suku Tengger ( Dewi Roro Anteng dan Joko Seger). Lokasi upacara adat suku Tengger ini digelar di Pura Luhur Poten, tepat di lautan pasir Bromo dam dekat dengan kaki Gunung Bromo.

Upacara Adat Yadnya Kasada Suku Tengger atau Hari raya kasada dilakukan pada tengah malam dan selesai pada dini hari. Upacara adat suku Tengger ini bertujuan untuk mengangkat dukun atau tabib yang ada di setiap desa di sekitar Gunung Bromo. Pada festival ini masyrakat suku Tengger akan melemparkan sesajen berupa hasil panen seperti sayuran, buah-buahan, atau hewan ternak seperti ayam atau kambing bahkan ada juga yang melemparkan uang ke kawah gunung tersebut. Ini adalah upacara adat yang hanya dimiliki oleh suku Tengger Bromo dan tidak ada lagi upacara Kasada yang serupa di seluruh dunia. Walaupun ada di Bali tapi upacaranya berbeda.
Nama lain dari upacara kasodo adalah :

- Upacara Kasada

- Hari Raya Yadya Kasada

- Festival Kasodo

- Upacara Yadnya Kasada Tengger Bromo

 

Sumber : wisata-bromo.com

Upacara Sekaten

Upacara Sekaten adalah sebuah upacara ritual di Kraton Yogyakarta yang dilaksanakan setiap tahun. Upacara ini dilaksanakan selama tujuh hari, yaitu sejak tanggal 5 Mulud (Rabiulawal) sore hari sampai dengan tanggal 11 Mulud (Rabiulawal) tengah malam. Upacara Sekaten diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran (Mulud) Nabi Muhammad SAW. Tujuan lain dari penyelenggaraan upacara ini adalah untuk sarana penyebaran agama Islam.
Ada beberapa pendapat mengenai asal mula nama Sekaten, yaitu:
 
 
  • Kata sekaten berasal dari kata sekati, yaitu nama dari dua perangkat gamelan pusaka Kraton Yogyakarta yang bernama Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
  • Sekaten berasal dari kata suka dan ati yang berarti suka hati atau senang hati. Hal ini didasarkan bahwa pada saat menyambut perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, orang-orang dalam suasana bersuka hati.
  • Pendapat lain mengatakan bahwa sekaten berasal dari kata syahadatain, yang maksudnya dua kalimat syahadat yang diucapkan ketika seseorang hendak memeluk agama Islam. Pendapat ini didasari bahwa pada jaman dahulu upacara sekaten diselenggarakan untuk menyebarkan agama Islam.
Bentuk-bentuk ritus yang ditampilkan dalam acara sekaten adalah sebagai berikut.
  1. Persiapan fisik dan non fisik petugas upacara.
  2. Pengeluaran gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati yang terdiri dari dua perangkat, yaitu Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dari persemayamannya.
  3. Pemukulan gamelan pusaka, Kanjeng Kyai Sekati, di dalam Kraton Yogyakarta, tepatnya di bangsal Ponconiti tratag barat dan timur.
  4. Penyebaran udhik-udhik oleh Sri Sultan pada saat pemukulan gamelan, baik untuk pengunjung maupun untuk para pemukul gamelan.
  5. Pemindahan gamelan Kanjeng Kyai Sekati dari kraton ke Masjid Besar.
  6. Pemukulan gamelan Kanjeng Kyai Sekati di Masjid Besar.
  7. Kehadiran Sri Sultan ke Masjid Besar untuk mengikuti upacara peringatan hari besar Mulud Nabi Muhammad SAW.
  8. Penyebaran udhik-udhik oleh Sri Sultan untuk para pemukul gamelan Kanjeng Kyai Sekati.
  9. Penyebaran udhik-udhik oleh Sri Sultan di antara saka guru (tiang utama) Masjid Besar.
  10. Pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.
  11. Penyematan bunga kanthil (cempaka) pada daun telinga kanan Sri Sultan pada saat pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW sampai pada asrokal (semacam bacaan berjanji).
  12. Kembalinya Sri Sultan dari Masjid Besar ke kraton.
  13. Kembalinya gamelan Kanjeng Kyai Sekati dari Masjid Besar ke persemayamannya di dalam kraton.
Urutan atau tata cara ritual dalam penyelenggaraan upacara Sekaten terdiri dari 5 tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap gamelan sekaten mulai dibunyikan, tahap gamelan sekaten dipindahkan ke halaman masjid besar, tahap Sri Sultan hadir di Masjid Besar, dan tahap kondur gongsa. Seluruh tahapan ini berlangsung selama tujuh hari.
1. Tahap Persiapan
Tahap pertama adalah tahap persiapan. Ada 2 jenis persiapan, yaitu persiapan fisik dan persiapan non fisik. Persiapan fisik berwujud benda-benda dan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upacara, sedangkan persiapan non fisik berwujud sikap dan perbuatan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan upacara.
Untuk persiapan non fisik, para abdi dalem yang akan terlibat dalam upacara harus mempersiapkan diri, terutama mental mereka untuk mengemban tugas yang dianggap sakral tersebut. Para abdi dalem yang bertugas menabuh gamelan sekaten harus menyucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas (mandi keramas). Gamelan pusaka adalah benda pusaka kraton, sehingga dalam memperlakukannya harus dengan penghormatan yang khusus.
Untuk persiapan yang berwujud fisik, benda-benda dan perlengkapan-perlengkapan yang perlu diperlukan dalam penyelenggaraan upacara adalah sebagai berikut.
  1. Gamelan Sekaten, yaitu gamelan pusaka bernama Kanjeng Kyai Sekati.
  2. Perbendaharaan lagu-lagu atau gending-gending khusus yang tidak pernah dibunyikan pada acara lain. Konon, lagu-lagu tersebut merupakan ciptaan Walisanga pada jaman Kerajaan Demak. Lagu-lagu tersebut adalah Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Andong-andong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet nem, Muru putih, Orang-orang pathet nem, Ngajatun pathet nem, Bayem Tur pathet nem, Supiatun pathet barang, Srundheng Gosong pelog pathet barang.
  3. Sejumlah kepingan uang logam untuk disebarkan dalam upacara udhik-udhik. 
  4. Naskah riwayat Mulud Nabi Muhammad SAW yang akan dibacakan oleh Kyai Pengulu pada tanggal 11 Rabiulawal malam.
  5. Sejumlah bunga kanthil (cempaka) yang akan disematkan pada daun telinga kanan Sri Sultan dan para pengiringnya pada saat menghadiri pembacaan riwayat Mulud Nabi Muhammad SAW.
  6. Busana seragam yang masih baru dan sejumlah samir khusus untuk dipakai oleh para niaga yang bertugas menabuh gamelan.
2. Tahap Gamelan Sekaten Mulai Dibunyikan
Tahap kedua adalah tahap gamelan sekaten mulai dibunyikan. Gamelan sekaten akan dibunyikan di dalam kraton, tepatnya di Bangsal Ponconiti yang berada di halaman Kemandhungan atau Keben, yaitu di tratag bagian timur dan tratag bagian barat. Pada pukul 16.00 WIB gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari tempat persemayamannya. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditata di tratag bagian timur, sedangkan Kanjeng Kyai Nagawilaga ditata di tratag bagian barat.
Selepas waktu shalat Isya dan setelah semua persiapan selesai, para abdi dalem yang bertugas di Bangsal Ponconiti memberi laporan pada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah ada perintah dari Sri Sultan melalui abdi dalem yang diutus, gamelan sekaten mulai dibunyikan. Gamelan sekaten dibunyikan mulai dari pukul 19.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Penabuhan gamelan dilakukan berselang-seling dari kanjeng Kyai Guntur Madu disusul Kanjeng Kyai Nagawilaga dengan urutan gending yang sudah ditentukan.
Pada pukul 20.00 WIB, Sri Sultan atau utusannya diiringi para pangeran, kerabat, dan para bupati datang ke tempat gamelan dibunyikan untuk menyebarkan udhik-udhik. Menurut kepercayaan masyarakat, kepingan uang logam udhik-udhik dapat membawa keberuntungan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya. Awalnya udhik-udhik disebarkan di Bangsal Ponconiti tratag timur, ke arah para penabuh gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu, kemudian ke Bangsal Ponconiti tratag barat, ke arah para penabuh gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga, selanjutnya disebarkan ke arah pengunjung.
Pada saat Sri Sultan atau utusannya menyebar udhik-udhik, para pemukul gamelan tidak berani mengambil, melainkan terus melanjutkan tugasnya untuk memukul gamelan. Setelah gending yang dibunyikannya berakhir, barulah mereka berani memunguti udhik-udhik yang jatuh di dekatnya. Saat Sri Sultan atau yang mewakili datang mendekat, bunyi gamelan yang didekati dibuat lembut dengan dipukul tidak teerlalu keras, sampai sultan mendekati tempat tersebut. Dimulainya penabuhan gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati merupakan pertanda dimulainya upacara sekaten.

3. Tahap Gamelan Sekaten Dipindahkan ke Halaman Masjid Besar
Tahap selanjutnya adalah tahap gamelan sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Besar. Pada pukul 23.00 WIB, bunyi gamelan sudah berhenti. Bersamaan dengan itu, datanglah para prajurit yang akan bertugas mengawal iring-iringan gamelan dari kraton menuju halaman Masjid Besar, serta para abdi dalem KHP Wahono Sarta Kriya yang akan bertugas mengusung gamelan.
Pada pukul 24.00 WIB, gamelan Kanjeng Kyai Sekati dipindahkan dari kraton ke halaman Masjid Besar. Pemindahan gamelan dikawal oleh dua pasukan prajurit kraton, yaitu Prajurit Mantrijero dan Prajurit Ketanggung. Urut-urutan iring-iringan diawali petugas pengawal kepolisian, diikuti para panji abdi dalem prajurit, disambung abdi dalem sipat bupati keprajan utusan pemerintah Kota Yogyakarta, disambung abdi dalem prajurit ngurung-urung (melindungi di samping kiri dan kanan) jalannya iring-iringan gamelan, diikuti oleh orang-orang yang semula berkerumun di halaman Kemandhungan.
Di Masjid Besar, gamelan sekaten dibunyikan selama 7 hari 7 malam, kecuali pada hari Kamis malam atau Malam Jumat hingga sehabis shalat Jumat. Setiap hari gamelan sekaten dibunyikan sebanyak tiga kali, yaitu pagi (pukul 08.00 – 11.00 WIB), siang (pukul 14.00 – 17.00 WIB), dan malam (pukul 20.00 – 23.00 WIB). Cara membunyikannya adalah bergantian dari Kanjeng Kyai Guntur Madu kemudian Kanjeng Kyai Nagawilaga, dengan gending yang sama.

4. Tahap Sri Sultan Hadir di Masjid Besar
Pada malam ketujuh, tanggal 11 Rabiulawal malam di Masjid Besar diselenggarakan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dan penyebaran udhik-udhik oleh sultan. Kehadiran sultan dari kraton menuju Masjid Besar dengan mengendarai kendaraan, diiringi oleh para pangeran dan kerabat. Di pintu gerbang Masjid Besar, sultan disambut Sri Paduka Paku Alam, Kanjeng Raden Pengulu, walikota Yogyakarta, dan para Abdi Dalem Sipat Bupati beserta para tamu undangan. Sesampainya di halaman Masjid Besar, sultan menuju ke Pagongan selatan untuk menyebarkan udhik-udhik ke arah penabuh gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu, kemudian menuju ke Pagongan utara untuk menyebarkan udhik-udhik ke arah penabuh gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga. Selanjutnya sultan melanjutkan perjalanan menuju masjid.
Sesampainya di depan Mihrab, Sri Sultan dan Kyai Pengulu berdiri di depan pengimamam menghadap ke arah timur. Seorang abdi dalem punokawan kaji menyerahkan pada sultan sebuah bokor berisi udhik-udhik untuk disebar di antara saka guru Masjid Besar serta ke arah kerabat, para abdi dalem, beserta para hadirin. Setelah itu, sultan keluar dari masjid lalu duduk di serambi masjid dengan beralaskan kain putih.
Setelah semuanya siap, sultan mengucapkan salam, lalu memberi isyarat pada Kanjeng Raden Pengulu untuk memulai membacakan riwayat Nabi Muhammad SAW. Pada saat pembacaan Mulud Nabi Muhammad SAW sampai pada asrokal (peristiwa kelahiran nabi), Sri Sultan beserta para pengiringnya menerima persembahan bunga cempaka dari Kyai Pengulu. Pembacaan riwayat Mulud Nabi Muhammad SAW selesai kira-kira pukul 24.00 WIB. Bacaan diakhiri dengan doa oleh Kanjeng Raden Pengulu. Setelah doa, sultan mengucapkan salam lalu kembali ke kraton.

5. Tahap Kondur Gongso
Pada tanggal 11 Rabiulawal, kira-kira pukul 24.00 WIB, setelah sultan meninggalkan Masjid Besar, gamelan sekaten diboyong kembali ke kraton, yang disebut kondur gongso. Sesampainya di kraton, gamelan langsung disemayamkan di tempatnya semula. Dengan dipindahkannya gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati kembali ke kraton, menandakan bahwa upacara sekaten telah selesai.

Sumber : http://www.jogjasiana.net

Upacara Ngaben

Ngaben adalah suatu upacara pembakaran mayat yang dilakukan umat Hindu di Bali, upacara ini dilakukan untuk menyucian roh leluhur orang sudah wafat menuju ketempat peristirahatan terakhir dengan cara melakukan pembakaran jenazah.

 

Dalam diri manusia mempunyai beberapa unsur, dan semua ini digerakan oleh nyawa/roh yang diberikan Sang Pencipta. Saat manusia meninggal, yang ditinggalkan hanya jasad kasarnya saja, sedangkan roh masih ada dan terus kekal sampai akhir jaman. Di saat itu upacara Ngaben ini terjadi sebagai proses penyucian roh saat meninggalkan badan kasar.

Kata Ngaben sendiri mempunyai pengertian bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia. Dalam ajaran Hindu Dewa Brahma mempunyai beberapa ujud selain sebagai Dewa Pencipta Dewa Brahma dipercaya juga mempunyai ujud sebagai Dewa Api. Jadi upacara Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa dapat kembali ke sang pencipta, api penjelmaan dari Dewa Brahma bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meningggal.

Upacara Ngaben ini dianggap sangat penting bagi umat Hindu di Bali, karena upacara Ngaben merupakan perujudan dari rasa hormat dan sayang dari orang yang ditinggalkan, juga menyangkut status sosial dari keluarga dan orang yang meninggal. Dengan Ngaben, keluarga yang ditinggalkan dapat membebaskan roh/arwah dari perbuatan perbuatan yang pernah dilakukan dunia  dan menghantarkannya menuju surga abadi dan kembali berenkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda.

Ngaben dilakukan dengan beberapa rangkaian upacara, terdiri dari  berbagai rupa sesajen dengan tidak lupa dibubuhi simbol-simbol layaknya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu di Bali. Upacara Ngaben biasa nya dilalukan secara besar besaran, ini semua memerlukan waktu yang lama, tenaga yang banyak dan juga biaya yang tidak sedikit dan bisa mengakibatkan Ngaben sering dilakukan dalam waktu yang lama setelah kematian.

Pada masa sekarang  ini masyarakat Hindu di Bali sering melakukan Ngaben secara massal / bersama, untuk meghemat biaya yang ada, dimana Jasad orang yang meninggal untuk sementara dikebumikan terlebih dahulu sampai biaya mencukupi baru di laksanakan, namun bagi orang dan keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya, untuk sementara waktu jasad disemayamkan di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Ada anggapan kurang baik bila penyimpanan jasad terlalu lama di rumah, karena roh orang yang meninggal tersebut menjadi bingung dan tidak tenang, dia merasa berada hidup diantara 2 alam dan selalu  ingin cepat dibebaskan.

Pelaksanaan Ngaben itu sendiri harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan pendeta untuk menetapkankan kapan hari baik untuk dilakukannya upacara.  Sambil menunggu hari baik yang akan ditetapkan, biasanya pihak keluarga dan dibantu masyarakat beramai ramai melakukan Persiapan tempat mayat ( bade/keranda ) dan replica berbentuk lembu  yang terbuat dari bambu, kayu, kertas warna-warni, yang nantinya untuk tempat pembakaran mayat tersebut.

Dipagi harinyasaatupacara ini dilaksanakan, seluruh keluargadanmasyarakat akan berkumpul mempersiapkan upacara. Sebelum upacara dilaksanakan Jasad  terlebih dahulu dibersihkan/dimandikan, Proses pelaksaaan pemandian di pimpin oleh seorang Pendeta atau orang dari golongan kasta Bramana.
Setelah proses pemandian selesai , mayat  dirias dengan mengenakan pakaian baju adat Bali, lalu semua anggota keluarga berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir dan diiringi doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh kedamaian dan berada di tempat yang lebih baik.

Mayat yang sudah dimandikan dan mengenakan pakaian tersebut diletakan di dalam“Bade/keranda” lalu di usung secara beramai-ramai, seluruh anggota keluarga dan masyarakat  berbarisdidepan  “Bade/keranda”. Selama dalam perjalanan menuju tempat upacara Ngabentersebut, bila terdapat persimpangan atau pertigaan, Bade/keranda akan diputar putar sebanyak tiga kali, ini dipercaya agar si arwah bingung dan tidak kembali lagi ,dalam pelepasan jenazah  tidak ada isak tangis, tidak baik untuk jenazah tersebut, seakan tidak rela atas kepergiannya.Arak arakan  yang menghantar kepergian jenazah diiringi bunyi gamelan,kidung suci.Pada sisi depan dan belakang Bade/keranda yang di usung terdapat kain putih yang mempunyai makna sebagai jembatan penghubung bagi sang arwah untuk dapat sampai ketempat asalnya.

Setelah sampai dilokasi kuburan atau tempat pembakaran yang sudah disiapkan, mayat di masukan/diletakan diatas/didalam “Replica berbentuk Lembu“ yang sudah disiapkan dengan terlebih dahulu pendeta atau seorang dari kasta Brahmana membacakan mantra dan doa, lalu upacara Ngaben dilaksanakan, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi abu. Sisa abu dari pembakaran mayat tersebut dimasukan kedalam buah kelapa gading lalu kemudian di larungkan/dihayutkan ke laut atau sungai yang dianggap suci.

Dari pemamaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Ngaben adalah upacara pembakaran mayat di Bali yang saat disakralkan dan diagungkan, upacara ini adalah ungkapan rasa hormat yang ditujukan untuk orang yang sudah meninggal. Upacara ini selalu dilakukan secara besar besar dan meriah,  tidak semua umat Hindu di Bali dapat melaksanakannya karena memerlukan biaya yang tidak sedikit. Semua yang berasal dari sang pencipta pada masanya akan kembali lagi dan semua itu harus diyakini dan ihklaskan. Manusia di lahirkan dan kemudian meninggal itu semua erat berhubungan dengan amal perbuatannya selama di dunia.

Sumber : http://wisatadewata.com

Lompat Batu Nias

 
Batu yang harus dilompati tingginya sekira 2 meter, berlebar 90 cm, dan panjangnya 60 cm. Dengan ancang-ancang lari yang tidak jauh, seorang pemuda Nias akan dengan tangkas melaju kencang lalu menginjak sebongkah batu untuk kemudian melenting ke udara melewati sebuah batu besar setinggi 2 meteran menyerupai benteng. Puncak bantu tidak boleh tersentuh dan sebuah pendaratan yang sempurna harus dituntaskan karena apabila tidak maka resikonya adalah cedera otot atau bahkan patah tulang.
Sedari 7 tahun anak lelaki di Pulau Nias berlatih melompati tali yang terus meninggi takarannya seiring usia mereka yang bertambah. Bila saatnya tiba maka mereka akan melompati tumpukan batu berbentuk seperti prisma terpotong setinggi 2 meter. Ini juga sekaligus menjadi penakar keberanian dan kedewasaan mereka sebagai keturunan pejuang Nias.

Tradisi lompat batu di Pulau Nias, Sumatera Utara atau disebut sebagai hombo batu atau fahombo telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi ini lestari bersama budaya megalit di pulau seluas 5.625 km² yang dikelilingi Samudera Hindia dan berpenduduk 700.000 jiwa itu.

Tradisi fahombo diwariskan turun-termurun di setiap keluarga dari ayah kepada anak lelakinya. Akan tetapi, tidak semua pemuda Nias sanggup melakukannya meskipun sudah berlatih sedari kecil. Masyarakat Nias percaya bahwa selain latihan, ada unsur magis dari roh leluhur dimana seseorang dapat berhasil melompati batu dengan sempurna.

Lompat batu di Pulau Nias awalnya merupakan tradisi yang lahir dari kebiasaan berperang antardesa suku-suku di Pulau Nias. Masyarakat Nias memiliki karakter keras dan kuat diwarisi dari budaya pejuang perang. Dahulu suku-suku di pulau ini sering berperang karena terprovokasi oleh rasa dendam, perbatasan tanah, atau masalah perbudakan. Masing-masing desa kemudian membentengi wilayahnya dengan batu atau bambu setinggi 2 meter. Oleh karena itu, tradisi lompat batu pun lahir dan dilakukan sebagai sebuah persiapan sebelum berperang.

Saat itu, desa-desa di Pulau Nias yang dipimpin para bangsawan dari strata balugu akan menentukan pantas tidaknya seorang pria Nias menjadi prajurit untuk berperang. Selain memilki fisik yang kuat, menguasai bela diri dan ilmu-ilmu hitam, mereka juga harus dapat melompati sebuah batu bersusun setinggi 2 meter tanpa menyentuh permukaannya sedikitpun sebagai tes akhir.

Kini tradisi lompat batu bukan untuk persiapan perang antarsuku atau antardesa tetapi sebagai ritual dan simbol budaya orang Nias. Pemuda Nias yang berhasil melakukan tradisi ini akan dianggap dewasa dan matang secara fisik sehingga dapat menikah. Kadang orang yang berhasil melakukan tradisi ini juga akan dianggap menjadi pembela desanya jika terjadi konflik.

Atraksi hombo batu tidak hanya memberikan kebanggaan bagi seorang pemuda Nias tetapi juga untuk keluarga mereka. Keluarga yang anaknya telah berhasil dalam hombo batu maka akan mengadakan pesta dengan menyembelih beberapa ekor ternak.

Anda dapat menikmati atraksi mengagumkan ini di beberapa tempat di Pulau Nias, seperti di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari) atau di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan. Saat menyambangi Pulau Nias jangan lewatkan juga untuk mengamati kemegahan warisan budayanya berupa arca peninggalan megalit, rumah tradisional, dan tentunya berselancar (surfing) atau menyelam (diving).

Sumber : http://www.indonesia.travel

Sejarah Tulungagung

 
Dalam sejarah babad Tulungagung disebutkan bahwa nama Tulungagung tidaklah timbul dengan tiba-tiba. Telah banyak musim silih berganti berikut masa-masa yang dilampauinya, yang semuanya itu meninggalkan kenangan-kenangan yang tersendiri di dalam lembaran riwayat terjadinya Kota Tulungagung. Apa yang dapat kita kenang dari nama Tulungagung, Berikut catatan wartawan Mataram Timur, Hariyanto.
Tulungagung berasal dari dua kata Tulung dan Agung. Kata Tulung mempunyai dua arti
Pertama : Tulung dalam bahasa Sanskerta artinya sumber air atau dalam bahasa Jawa dapat dikatakan Umbul.
Kedua : Tulung yang berarti pemberian, pertolongan atau bantuan.
Adapun "Agung" berarti besar.
Jadi lengkapnya Tulungagung mempunyai arti "Sumber air besar" atau "Pertolongan besar".
Menurut Mbah Wo, Juru Kunci Eyang Agung Tjokrokoesoemo, Wajak Kidul. Meskipun sumber air dan pertolongan itu berlainan artinya, namun di dalam sejarah Tulungagung keduanya tak dapat dipisahkan, karena mempunyai hubungan erat sekali dalam soal asal mula terbentuknya daerah maupun perkembangannya. Dahulu orang menyebutnya Kabupaten Ngrowo, ialah sesuai dengan keadaan daerahnya yang kesemuanya tidak jauh letaknya dari sungai. Misalnya : Gledug, Patjet, Waung, Tawing dll; Sebelum dijadikan Kabupaten daerah-daerah itu dikuasai oleh para Tumenggung. Dibawah perlindungan Kerajaan Mataram.
Mbah Wo menjelaskan dahulu daerah Ngrowo itu tidak seluas sekarang. Semenjak Katemenggungan diubah kedudukannya menjadi kabupaten, maka diperlukan adanya perluasan daerah. Tidak cukup hanya terdiri rawa-rawa saja, tetapi membutuhkan pula daratan untuk kemakmuran masyarakatnya.
Bantuan-bantuan dari kabupaten sekitarnya sangat dibutuhkan. Ini terjadi pada sekitar abad ke-19. Kabupaten Blitar menyumbang daerah Ngunut. Kabupaten Ponorogo menyumbang daerah pegunungan Trenggalek. Sedangkan Kabupaten Pacitan menyumbang daerah pantai selatan yaitu Ngrajun, Panggul dan Jombok. Dengan demikian Kabupaten Ngrowo dahulu daerahnya hingga Kabupaten Trenggalek. Bantuan berupa daerah tersebut merupakan 'pertolongan yang besar bagi pembentukan Kabupaten Ngrowo.
Sebelum dijadikannya kabupaten daerah-daerah tersebut dikuasai oleh para Tumenggung di bawah perlindungan kerajaan Mataram.
Bupati pertama hingga ke XI masih disebut Bupati Ngrowo. Baru pada tahun 1901 nama Ngrowo itu diganti dengan Tulungagung. Ketika itu yang menjadi bupatinya R. T. Partowidjojo. Beliau yang menyelesaikan perubahan nama tadi karena menjabat Bupati sejak tahun 1896 hingga tahun 1901. Demikianlah asal mula nama Tulungagung yang dahulu sering disebut Kota Banjir. Tulungagung mengandung makna "Berasal dari Sumber air yang besar” tetapi dengan usaha dan bantuan yang besar pula dapat memberi pertolongan yang besar.
Nama-nama Bupati / Kepala Daerah yang memimpin Tulungagung sejak berdirinya Pemerintahan di Tulungagung
1. KYAI NGABEHI MANGUNDIRONO, Bupati Ngrowo di Kalangbret
2. TONDOWIDJOJO, Bupati Ngrowo di Kalangbret
3. R.M. MANGOENNEGORO, Bupati Ngrowo di Kalangbret
4. R.M.T. PRINGGODININGRAT, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1824-1830
5. R.M.T. DJAJANINGRAT, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1831-1855
6. R.M.A SOEMODININGRAT, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1856-1864
7. R.T. DJOJOATMOJO, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1864-1865
8. RMT GONDOKOESOEMO, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1865-1879
9. RT SOEMODIRJO, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1879-1882
10. RMT PRINGGOKOESOEMO, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1882-1895
11. RT PATOWIDJOJO, Bupati Ngrowo di Tulungagung 1896-1901
12. RT COKROADINEGORO, Bupati Tulungagung 1902-1907
13. RPA SOSRODININGRAT, Bupati Tulungagung 1907-1943
14. R. DJANOEISMADI, Kenchoo Tulungagung 1943-1945
15. R. MOEDAJAT, Bupati Tulungagung 1945-1947
16. R. MOCHTAR PRABU MANGKUNEGORO, Bupati Tulungagung 1947-1950
17. R. MOETOPO, Bupati Tulungagung 1951-1958
18. DWIDJOSOEPARTO, Kepala Daerah Tulungagung 1958-1960
19. KASRAN, Bupati Tulungagung 1958-1959
20. R. SOERYOKOESOEMO, Pd. Bupati 1959-1960
21. M. POEGOEH TJOKROSOEMARTO, Bupati/Kepala Daerah 1960-1966
22. R. SOENDARTO, Pd. Bupati/Kep.Daerah 1966-1968
23. LETKOL (U) SOENARDI, Bupati/Kepala Daerah 1968-1973
24. LETKOL INF. MARTAWISOEROSO, Bupati/Kepala Daerah 1973-1978
25. SINGGIH, Bupati/Kepala Daerah 1978-1983
26. DRS.MOH. POERNANTO, Bupati/Kepala Daerah 1983-1987
27. DRS. H. JAIFUDIN SAID,
28. Drs. BUDI SOESETYO Bupati Tulungagung 1999-2003
29. IR. HERU TJAHJONO, MM. Bupati Tulungagung 2003-2013
30. Syahri Mulyo, SE Bupati Tulungagung 2013-2018
 
Sumber : http://www.mataram-timur.com

Asal Usul Nama Desa Beji

            
Pada zaman dahulu kala lahirlah seorang pangeran. Pangeran itu bernama Pangeran Bedalem. Dia diangkat menjadi Adipati Betak menggantikan ayahnya yang telah wafat. Selama pemerintahannya daerah itu selalu aman dan tidak ada peperangan. Dalam waktu yang lama itu dia menjadi adipati, ia ditegur oleh ibunya. Ibunya menyuruh anaknya Pangeran Bedalem agar segera mencari seorang gadis untuk dijadikan istri. Pangeran Bedalem berfikir bahwa dia sadar kalau belum punya instri. Lalu dia segera mencari-cari seorang gadis yang pantas untuk diperistri. Ternyata setelah mencari-cari sampai beberapa bulan ternyata pilihannya jatuh pada Rara Ringgit, adik dari seorang selir ayahnya yang bernamaRetno Mursada. Dia sangat cantik dan baik. Pangeran Bedalem segera menemui Retno Mursada. Kepada Retno Mursada dia mengutarakan keinginannya untuk memperistri Rara Ringgit. Pada waktu itu Pangeran Bedalem memohon kepada Ibu Retno Mursada agar menyampaikan keinginannya kepada Rara Ringgit secepatnya. Ketika Pangeran Bedalem meninggalkan Retno Mursada tiba-tiba Rara Ringgit datang, segera Mursada menyampaikan keinginan Pangeran Bedalem kepada Rara Ringgit, ternyata dia terhenyak tak percaya karena dia menganggap Pangeran Bedalem sebagai saudaranya sendiri dan dihatinya tak ada rasa cinta kepada Pangeran Bedalem. Ternyata RaraRinggit menolak untuk dinikahi. Karena penolakan itu, Pangeran Bedalem marah dan mengancam akan memaksanya untuk dijadikan istri. Etelah Rara Ringit mengetahui itu, dia merencanakan untuk melarikan diri dari Kadipaten Betak.
        Pada suatu malam yang sunyi, Rara Ringgit sudah bersiap-siap untuk lari dari Kadipaten Betak. Semula Rara Ringit yakin, tak akan ada yang mengetahui kepergiannya. Ternyata seorang prajurit yang sedang ronda memergokinya dan dia segera lari secepatnya. Setelah itu prajurit melaporkannya pada Pangeran Bedalem, setelah tahu itu dia segera mempersipakan prajuritnya untuk mengejar Rara Ringgit.
          Pada waktu itu Pangeran Bedalem berpesan kepada prajuritnya agar tidak melukai Rara Ringit dan menangkapnya hidup-hidup. Rororinggit mengetahui bahwa dia sedang dikejar oleh Pangeran Bedalem dan prajurit-prajuritnya. Rara Ringit segera berlari pontang-panting dan kadang harus bersembunyi untuk menghilangkan jejak sampai pagi pun dia selamat dan belum tertanglap oleh Pangeran Bedalem. Ketika ituRara Ringit terus berlari menghindari pengejaran sampai kelelahan dan merasa sangat kehausan. Tidak jauh dari perjalanan itu dia menemukan sebuah sendang (telaga kecil) yang jernih airnya. Di daerah itu banyak orang yang sedang menunggu giliran untuk mengambil air dan Rara Ringgit pun menungu gilirannya. Namun rasa haus tidak dapat ditahan dan akhirnya dia meminta izin kepada orang-orang disana. Untung saja mereka mengizinkan dan dia merasa lega. Dengan mata berbinar-binar dia tergesa-gesa menuju di tepi sendang. Karena kurang hati-hati akhirnya kaki Rara Ringgit terpeleset batu yang licin dan terjengkang ke belakang dan kepalanya terbentur batu yang keras. Orang-orang disana segera menolong, namun tidak disadari sudah terlambat. Rara Ringgit sudah meninggal dunia. Pangeran Bedalem dan Prajuritnya tiba ditempatitu dan melihat banyak orang yang bergerombol di tetpi sendang. Lalu dihampirinya orang-orang itu. Ternyata air mata Pangeran Bedalem mulai bercucuran melihat rara Ringgit sudah terbujur kaku digotong oleh orang-orang itu Dia menyesali kepergian Rara Ringgit karena kesalahan yang dibuatnya untuk mengancam Rara Ringgit. Lalu Pangeran Bedalem menyuruh prajuritnya untuk membantu orang-orang mengubur jenazah rara Ringgit. Semenjak ditinggalkan Rara Ringgit dia selalu menangis dan menyesal terus-menerus. Akhirnya dengan hati yang lapang Pangeran Bedalem menerima kepergian rara Ringit dan kemudian Pangeran Bedalem pergi dan meninggalkan Kadipaten Betak. Semenjak itu Kadipaten Betak menjadi tidak aman dan selalu ada peperangan karena tidak ada adipati  yang menjadi Raja di Kadipaten Betak. Dan akhirnya daerah itu selalu menjadi sepi dan sunyi dan ibu dari Pangeran Bedalem telah meninggal dunia.
            Pangeran Bedalem kemudian menjadikan dirinya sebagai seorang pertapa di sebuah pegunungan kecil. Setelah bertapa sampai beberap tahun akhirnya meninggal. Ketikameninggal, dia dimakamkan di tempat itu. Pegunungan itu sekarang berada di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung. Dan pegunungan itu sekarang masih ada. Sendang tempat meninggalnya Rara Ringit oleh orang-orang sekarang diberi nama Sendang Beji. Nama itu sesuai degan pangakuan Rara Ringgit pada zaman dahulu, Hingga sekarang Sendang itu tetap diberi nama Sendang Beji. Sendang Beji berada di Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
 
Sumber : http://denyarfen.blogspot.com

Asal Mula Desa Gamping Campurdarat - Tulungagung

Setelah Tanah Jawa ditumbali oleh Syekh Bakir. Tanah Jawa bagian selatan masih dinamakan Kalangbret. Daerah tersebut dipimpin seorang adipati yang bernama Adipati Kalang. Setelah itu ada seorang pengembara yang berasal dari daerah Mbayat yang bernama Raden Panca. Raden Panca mempunyai seorang kekasih yang bernama Dewi Jah putri dari Bantul. Setelah mereka menjalin hubungan yang lama, orang tua dari Dewi Jah tidak merestuinya. Akhirnya Dewi Jah disuruh pergi meninggalkan rumah. Kemudian Raden Panca dan Dewi Jah meninggalkan daerah Mbayat berjalan menuju ke timur ke daerah Kalangbret.
Sesampai di Kalangbret, mereka berkelana menuju kea rah selatan hingga sampai di daerah Wadjak di rumah Tumenggung Surontani. Di rumah Tumenggung Surontani mereka menumpang untuk beristirahat sejenak hingga akhirnya meneruskan perjalanan menuju kea rah selatan hingga sampai di daerah Wadjak Gamping.
Kemudian Raden Panca dan Dewi Jah mempunyai keinginan untuk babat alas untuk mendirikan sebuah daerah yang dinamakan Desa Gamping. Setelah itu nama Raden Panca berubah menjadi Raden Pancasura dan nama Dewi Jah berubah menjadi Dawijah. Raden Pancasura merupakan seorang anak yang sakti mandraguna. Pekerjaan sehari – harinya hanya sabung ayam dan ikan ke daerah Buret dan Bedalem.
Setelah Desa Gamping semakin rame, Raden Panca mengadakan pemerintahan pertama yang dipimpin seorang Demang Cerme yang bernama Punjul Sukodono. Demang Cerme mempunyai tugas setiap bulannya untuk melaporkan keadaan Desa Gamping kepada Tumenggung Surontani. Tumenggung Surontani mempercayai penuh kepada Demang Cerme. Demang Cerme dipercayai untuk mencari bawahan seperti Lurah. Carik, dan sebagainya.
Lurah pertama yang ditunjuk untuk memerintah Desa Gamping tersebut bernama Lurah Malangtika. Pada saat pemerintahan Lurah Malangtika, wilayah Desa Gamping samapai Kali Sembung. Pada suatu hari, di Kali Sembung tersebut ditemukan bangkai kerbau dan bangkai manusia. Bangkai manusia tersebut, kepalanya menompang di atas lesung. Maka kali tersebut dinamakan Kali Plesungan.
Pada saat pemerintahan Demang Cerme, Desa Gamping menjadi sangat rame dan akhirnya datang penjajah yang mendirikan sebuah Pabrik Gamping yang bahan bakunya berasal dari batu kapur. Maka dari itu, hingga sekarang dinamakan Desa Gamping.
Pada suatu hari, Demang Cerme dan Lurah Malangtika berjalan di sebuah pegunungan, mereka menemukan sumber air yang tertutup batu karang. Mereka berdua berinisiatif membuka batu karang tersebut agar air dapat digunakan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu sejak dulu sampai sekarang, daerah tersebut dinamakan Desa Karanganyar yang masuk wilayah Desa Gamping. Setelah itu, Desa Karanganyar membentuk RT dan RW.
Lurah Malangtika termasuk orang yang sakti mandraguna. Tunggangannya saja seekor kuda yang sangat hitam dan besar yang dinamakan Kuda Gagak Rimang. Lurah Malangtika pekerjaan sehari – harinya adalah berjudi dan sabung ayam.
Raden Pancasura dan Dawijah mendirikan perguruan yang mempunyai banyak anak buah. Lalu Raden Pancasura dan Dawijah meninggal dengan cara muksa (ngragasukma) yang sampai sekarang konon katanya tinggal di pohon tekik dan pohon asam jawa. Tempat tersebut menjadi keramat dan oleh masyarakat sekitar dipercayainya.
Setelah Raden Pancasura dan Dawijah meninggal, Desa Gamping dipimpin Lurah Malangtika. Lurah Malangtika diutus Demang Cerme untuk mencari Lurah berikutnya yang bernama Lurah Asmadi, lurah ketiga bernama Lurah Gamaya, lurah keempat bernama Lurah Jikan, lurah kelima bernama Lurah Damar Pancakarta, lurah keenam bernama Lurah Rawimejo, lurah ketujuh bernama Lurah Tanirejo, lurah kedelapan bernama Lurah Dasar Rawimejo, lurah kesembilan bernama Lurah Sontono, lurah kesepuluh bernama Lurah Muslodarmo, lurah kesebelas bernama Lurah Kromo, lurah kedua belas bernama Lurah Kusnamartorejo, lurah ketiga belas bernama Lurah Musadi Wiramiharjo, lurah keempat belas bernama Lurah Ramelan, lurah kelima belas bernama Lurah Irtaji, lurah keenam belas bernama Lurah Mahmudiyah, lurah ketujuh belas juga bernama Lurah Mahmudiyah, dan lurah kedelapan belas atau sekarang ini bernama Lurah Sinto Suyono.
Sejarah Desa Gamping
Pada zaman Pra Sejarah, kehidupan manusia purba berawal dari arah Pacitan menuju ke timur dan kemudian berbelok ke arah utara mengikuti arah pegunungan seperti Panggul – Pantai Prigi – Pantai Popoh dan kehidupannya menempati goa – goa disepanjang pegunungan yang di lewati.
Kehidupan pada zaman tersebut manusia purba sudah mengenal berbagai macam peralatan – peralatan yang digunakan untuk memenuhi kehidupannya. Peralatan – peralatan tersebut meliputi kapak batu, periuk dari tanah liat, dan panah yang digunakan untuk berburu.
Untuk di daerah Gamping sebetulnya pada zaman dahulu (Belanda) itu bernama daerah Wadjak ( dan kemungkinan di derah itu ditemukan kerangka atau fosil dari manusia purba yang diberi nama Homo Wajakensis ).
Mengenai hal itu di daerah tersebut ada peninggalan berupa tugu yang isinya menyatakan pernah di datangi seorang Gubernur Belanda yang bernama VAN ZUN EXC. DEN. Dan dengan itu, semula daerah itu yang bernama Wadjak diubah namanya menjadi Desa Gamping. Dinamakan Desa Gamping dikarenakan di daerah tersebut banyak sekali tambang bebatuan gamping. Dan oleh Belanda di daerah tersebut didirikan Perusahaan Pembakaran Batu Gamping.

Asal - Usul Nama Kalangbret

 
Pada mulanya di Tulungagung ada seorang Adipati yang terkenal yaitu Adipati Betak Bedalem. Adipati Betak ini mempunyai 2 putri yang sangat cantik, yang pertama bernama Roro Inggit dan yang kedua bernama Roro Kembangsore.

Putri Adipati Betak yang kedua ini banyak disenangi Adipati-Adipati Muda, bahkan kecantikannya sangat terkenal di Kota-Kota lain smapai di Kerajaan Mojopahit. Kerajaan Mojopahit yang Putranya bernama Pangeran Lembu Peteng, sebagai Pangeran yang sangat bagus parasnya juga mempunyai Keris yang sangat ampuh kegunaannya (Digdoyo). Pangeran Lembu Peteng ini juga berada di lingkungan Kadipatenan Bedalem, selain Pangeran Lembu Peteng juga ada Kasan Besari dan Adipati Kalang, yang sama-sama ada di lingkungan Kadipaten.

Pangeran Lembu Peteng dan Adipati Kalang sama-sama jatuh cinta kepada Putri Adipati Betak yang bernama Roro Kembang Sore. Roro Kembangsore sangat cocok dan cinta kapada Pangeran Lembu Peteng, dan akhirnya kedua pasangan ii dinikahkan oleh Adipati Betak Bedalem (ayahnya Roro Kembang Sore). Mendengar berita itu, Adipati Kalang sangat marah dan murka, akhirnya Adipati Kalang mempunyai rencana membunuh Pangeran Lembu Peteng.

Pada waktu Pangeran Lembu Peteng dan Roro Kembang Sore Sungkem pada Adipati Betak, tiba-tiba Adipati Kalang mengeluarkan kerisnya dan langsung di tancapkan pada Pangeran Lembu Peteng dari arah belakang, dan matilah Pangeran Lembu Peteng. Adipati Kalang mengamuk setelah membunuh Pangeran Lembu Peteng. Adipati juga membunuh kedua orang tuanya Roro Kembang Sore, yaitu Adipati Betak Bedalem dan Istrinya. Roro Ringgit juga Roro Kembang Sore melarikan diri mencari keselamatannya masing-masing. Roro Kembang Sore akhirnya ada di pertapaan Gunung Cilik, Semedi. Kesaktian Keris dari Suaminya sangat terkenal bahkan sampai terdengar oleh Adipati Kalang berniat untuk memilikinya. Adipati Kalang ingin tahu Pusaka ampuh itu, makanya dia pergi ke Gunung Cilik dengan jalan Jongkok dan tunduk. Sampai ke Gunung Cilik, semua persyaratan dari Roro Kembang Sore. Akhirnya sampailah Adipati Kalang di Gunung Cilik, dan wanita yang tidak kenal itu menyuruh supaya Adipati Kalang menengadah dan dan melihat siapa yang ada di depannya, betapa kagetnya Adipati Kalang, ternyata orang yang menyuruh di Gunung Cilik itu ialah Roro Kembang Sore.

Utusan dari Mojopahit waktu itu juga ada di Gunung Cilik, Patih Gajah Mada beserta Prajuritnya. Patih Gajah Mada tahu kalau pembunuh Putra Kerajaan Mojopahit Pangeran Lembu Peteng adalah Adipati Kalang pembunuhnya. Adipati Kalang lari terbirit-birit karena terus dikejar oleh Patih Gajah Mada dan Adipati Kalang badannya “di suwir-suwir” oleh Patih Gajah Mada, akhirnya tempatnya dinamakan Cuwiri dan Adipati Kalang lari kepergok oleh Patih Gajah Mada. Lalu tempat itu dinamakan “Bantelan” dan Adipati Kalang lari lalu si sembret-sembret terus tempat nya dinamakan “Kalangbret“, akhirnya Adipati Kalang jatuh dan masuk ke Kedung. Akhirnya “Ngesong” ke dalam dan dinamakan Kali Song. Akhirnya Adipati Kalang mati di dalam sugnai tersebut. Dan mayatnya tersangkut di pohon aren. Oleh Patih gajah Mada dinamakan “Batangsaren”.

Inilah cerita dari Wilayah Kalangbret Tulungagung yang kejadiannya di sekitar Wilayah Kalangbret sini. Nama-nama di bawah ini semua pemberian nama dari Patih Gajah Mada.

Adipati Kalang di suwir-suwir ® Cuwiri

Adipati Kalang kebentel ® Bantelan

Adipati Kalang jatuh diam (Tiba Meneng) ® Boneng

Adipati Kalang di sembret-sembret ® Kalangbret

Adipati Kalang masuk kedung ngesong ® Kali Song

Adipati Kalang mati tersangkut di pohon aren ® Batangsaren

Lalu nama itu di abadikan menjadi nama-nama Desa dan Dusun oleh masyarakat sekitar. Dan mereka menjadikan atau membuat cerita tersebut ke dalam ketoprak dan diselenggarakan pada hari-hari tertentu. Dan mereka sangat senang gembira karena diwarisi kebudayaan yang sangat berharga.

Sumber : http://masimronalif.blogspot.com

Reog kendang

Reog kendang adalah kesenian khas daerah Tulungagung.  
 
Tarian ini menggambarkan arak-arakan prajurit Kedirilaya yang mengiringi Ratu Kilisuci dalam rangka menemui Jathasura yang bertempat di Gunung Kelud. Ratu Kilisuci yang sebenarnya sedang memperdaya Jathasura bahwa sebenarnya dia menolak lamaran secara halus dengan menyampaikan beberapa syarat berat yang harus dipenuhi Jathasura. Ternyata Jathasura bisa memenuhi syarat yang berat tersebut. Akhirnya dibuatlah boneka yang mirip dirinya yang kemudian diarak ke Gunung Kelud dengan maksud memeriksa sejauh mana syarat yang diajukannya sudah dikerjakan oleh Jathasura. Ketika arak-arakan sampai di sebuah sumur bandung yaitu sumur yang sangat dalam dan berbentuk kawah yang terletak di puncak Gunung Kelud (sumur ini termasuk sumur yang harus dibuat Jathasura sebagai syarat mempersunting Ratu Kilisuci) jatuhlah (boneka) Ratu Kilisuci ke dalam kawah tersebut. Pura-pura para prajurit panik karena ratu mereka masuk ke dalam kawah tersebut. Akhirnya karena Jathasura menganggap yang jatuh ke dalam kawah tadi adalah Ratu Kilisuci yang sebenarnya, serta merta tanpa pikir panjang dia ikut masuk kawah itu juga karena ingin menyelamatkan calon pengantin tercinta. Setelah masuk kawah dengan sigap prajurit Kedirilaya menimbunnya dengan batu-batuan besar. 
Hmmm kisah yang tragis ya :(

Dalam tarian yang sangat energik ini menggambarkan betapa berat dan sulit perjalanan yang mereka tempuh dengan membawa perbekalan yang berat dan kondisi jalan yang naik turun, menaiki gunung dan menuruni lembah yang curam, dan mengelilingi kawah tadi. Dengan gerakan melenggak-lenggok dan terkadang terseok-seok juga terbungkuk-bungkuk sebagai simbol membawa beban yang sangat berat. Juga gerakan seperti melongok ke dalam sumur sambil terus menabuh gendang dengan ritme monoton yang terasa magis.

Tarian ini diakhiri dengan gerakan sukacita merayakan kemenangan gemilang prajurit Kedirilaya yang sudah berhasil menimbun Jathasura.

Tempat Wisata di Tulungagung

Tulungagung sebuah kota yang berada di pesisir pantai selatan pulau jawa ini memiliki beberapa tujuan objek atau tempat wisata yang lumayan bagus untuk anda kunjungi. Memang tempat wisata di tulungagung tidak sebanyak dan seterkenal seperti tempat wisata yang ada di bandung, tempat wisata di jogja atau tempat wisata di bali yang notabene sudah tersohor hingga mancanegara, akan tetapi menurut kami tulungagung juga mempunyai tempat wisata yang lumayan bagus untuk referensi kunjungan wisata anda di jawa timur kususnya di kota dan kabupaten tulungagung.
Selain tempat wisata di tulungagung yang bisa anda jelajahi, pastinya akan sangat kurang bila anda belum menjelajahi kuliner khas yang berasal dari kota ini. Bagi anda para pecinta kuliner pasti pernah dengar makanan khas tulungagung yang namanya lodho ayam tulungagung. Makanan khas tulungagung ini memang lumayan populer. Tidak hanya terkenal di daerah asalnya saja, akan tetapi sudah banyak kota - kota besar yang sudah mulai menawarkan makanan khas tulungagung ini. Dan pastinya menikmati wisata kuliner akan lebih mantap dan lebih puas bila bisa datang langsung ke tempat asal dari makanan tersebut, Selain kuliner lodho tulungagung yang mantap, satu lagi yang pasti para anak muda penikmat kopi semua tahu kalau tulungagung terkenal akan kopi cete-nya. Banyak sekali warung dan produsen kopi cete yang nikmat di tulungagung dan salah satu warung kopi cete paling nikmat dan terkenal di tulungagung yang pernah kami kunjungi adalah kopi cete di warung mak tin yang juga sudah tersohor hingga daerah lain bahkan sampai luar pulau.
Tempat Wisata di Tulungagung

Mungkin itu sedikit gambaran tentang tempat wisata di tulungagung dan wisata kuliner yang bisa anda coba di kota ini. Untuk lebih lengkap tentang tempat wisata di tulungagung jawa timur, Silahkan lihat daftar tempat wisata di tulungagung yang telah kami rangkunm berukut ini.

Wisata Pantai dan Alam Di Tulungagung

Tidak kalah dengan objek wisata alam dan pantai di daerah lain. Objek wisata alam dan wisata pantai yang ada di tulungagung juga memiliki pemandangan indah yang harus anda nikmati pesonanya bila  anda mampir di tulungagung. Hampir setiap hari objek wisata tersebut selalu di kunjungi oleh wisatawan lokal apa lagi kalau saat liburan objek wisata pantai di tulungagung selalu menjadi tujuan wisata favorit bagi warga lokal dari tulugagung itu sendiri dan juga dari daerah lain sekitar tulungagung seperti kediri, blitar, malang, trenggalek dan daerah lainnya. Berikut adalah daftar objek wisata pantai dan wisata alam di tulungagung.
  1. Pantai Popoh  - Sekitar 29 km perjalanan dari kota tulungagung
  2. Pantai Sangar - Jengglungharjo, Tulungagung, Jawa Timur 
  3. Pantai Sidem  - Seitar 30 menit dari kota tulungagung
  4. Pantai Brumbun  - Sekitar 30 km perjalanan dari kota tulungagung
  5. Pantai Klatak  - Desa keboireng kecamatan Besuki
  6. Pantai Coro  - Berada di kecamatan Spring
  7. Pantai Sine  -  Desa kalibatur Kecamatan Kalidawir
  8. Air Terjun Lawean - Kecamatan Sendang sekitar 25 km dari Kota Tulungagung.
  9. Air Terjun Pandanwangi - Desa Ngelurup, Kecamatan Sendang
  10. Goa Pasir - Desa Junjung Sumbergempol
  11. Goa Tan Tek Sue - Desa Sendang, Kecamatan Sendang
  12. Goa Selomangleng - Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu
  13. Telaga Buret - Desa Sawo Kecamatan Campur Darat

Wisata Sejarah Di Tulungagung

  1. Candi Penampehan - Desa Geger Kecamatan Sendang
  2. Candi Dadi - Desa Sanggrahan Kecamatan Boyolangu
  3. Candi Boyolangu - Desa Boyolangu Kecamatan Boyolangu

Wisata Religi Di Tulungagung

  1. Masjid Agung Al Munawar - Sebelah Barat Alun-alun Kota Tulungagung
  2. Masjid Tiban - Desa Macanbang Kecamatan Gondang
  3. Klenteng Tjoe Tik Kiong - Jl. Wr Supratman 10 Kota tulungagung
Sumber : http://koswisata.blogspot.com

Goa Selomangleng Tulungagung


Goa Selomangleng - Bagi para pembaca diharapkan tidak rancu dengan pembahasan kita kali.
Kita tidak akan membahas Goa selomangleng yang menjadi ikon wisata kota kediri disini.
Masih sangat dekat dengan beberapa tempat wisata di Tulungagung , yaitu di kawasan Boyolangu Tulungagung ,Kita kali ini akan membahas mengenai Goa Selomangleng di tulungagung.
Untuk kali ini kami sebagian besar mengutip artikel ini dari blog tetangga dan juga sumber yang ada.
Tulungagung sendiri tidak hanya memiliki wisata pantai nya dan juga kuliner dan warung kopinya tapi kita juga memiliki tempat wisata berupa Goa yang sangat jarang ditemui di Tulungagung.



Wisata Goa memang bukan hal yang umum bagi masyarakat Tulungagung, namun karena alasan ini lah Goa selomangleng menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat menarik terutama bagi para pemuda di Tulungagung. Kadang kala karena kesamaan nama dengan goa di Kediri, banyak orang goa yang dimaksud adalah Goa selomangleng kediri padahal kita juga punya goa yang sama cuma bedanya Goa di tulungagung perlu lebih di kenalkan saja. Berikut adalah informasi yang kami dapat,silahkan dijadikan referensi destinasi wisata jika mampir ke Tulungagung.

Kompleks Goa Selomangleng yang menempati areal kehutanan di lingkungan BKPH Kalidawir, atau tepatnya di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, merupakan lereng Jurang Sanggrahan yang cukup terjal. Berbatasan dengan kebun milik penduduk, kompleks ini dapat dibedakan atas dua bagian, yakni bagian yang sekarang agak datar yang berada di bagian bawah, serta bagian yang terjal di bagian atas. Di bagian pertama itulah terdapat dua buah goa, sedangkan sebuah candi terdapat di bagian kedua. Ketiga kekunoan tersebut merupakan hasil pengerjaan pada bongkahan batu besar, memenuhi hampir seluruh sisa bagian atas batu.

Goa pertama berada di bagian tanah yang relatif datar, merupakan hasil pengerukan terhadap sebuah bongkah batu besar (monolit) dengan bentuk mulut persegi empat sebanyak dua buah. Gua pertama dihiasi dengan relief, sedangkan goa kedua tidak memilki relief. Lahan yang ditempati bongkahan batu bergoa tersebut meliputi areal seluas 29,5 m x 26 m.
Ukuran bagian dalam goa pertama adalah: panjang 360 cm, lebar 175 cm, dan dalam ceruk 380 cm. Mulut goa mengahadap ke arah arah barat.
Relief dipahatkan pada panel di dinding sisi timur dan utara.

Banyak sekali terdapat Relief yang terpahat di dinding Goa yang menjelaskan tentang cerita kuno pewayangan jaman dulu.
Hiasan itu menggambarkan bagian dari cerita Arjunawiwaha, yakni ketika Indra memerintahkan bidadarinya untuk menggoda Arjuna di Gunung Indrakila.
Digambarkan pula adegan ketika bidadari menuruni awan dari kahyangan ke bumi. Gua kedua terletak di bagian selatan dari goa pertama, pada bongkah yang sama, tetapi pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan goa pertama. Goa yang di bagian selatan ini menghadap ke selatan dan tidak memiliki hiasan apapun di dalamnya. Ukurannya panjang 360 cm dan lebar 200 cm
Beberapa meter di sebelah timur goa tersebut, pada tempat yang lebih tinggi terdapat bongkahan batu yang dipahatkan kaki dan batur candi berdenah persegi empat dengan ukuran panjang 490 cm dan lebar 475 cm. Dinding batur candi tersebut dihiasi palang Yunani berbingkai bujursangkar.

Banyak hal unik yang tergambar dari relief itu dan masih belum diketahui apa hubungan satu sama lain nya.Diduga kuat kalau situs  tersebut dibuat dan digunakan pada akhir abad X. Sebaliknya, berdasarkan cara pemahatan dan penataan rambut tokoh-tokohnya, Satyawati Suleiman, berpendapat bahwa goa tersebut berasal dari masa awal Majapahit.

Untuk mengetahui lebih mendalam tidak ada salahnya bagi anda pecinta seni dan budaya serta sejarah untuk mampir melihat sekaligus berwisata ke Goa selomangleng Di Tulungagung ini.
banyak sekali hal positif yang dapat kita peroleh dari wisata di Goa ini.

Sumber : http://e-bloggertulungagung.blogspot.com