Tampilkan postingan dengan label bumi. Tampilkan semua postingan

Eutrofikasi

Eutrofikasi merupakan masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 µg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja. Maka tidaklah mengherankan jika eutrofikasi menjadi masalah di hampir ribuan danau di muka Bumi, sebagaimana dikenal lewat fenomena algal bloom.

Akibat eutrofikasi

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya.

Sejarah pengetahuan tentang eutrofikasi

Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini.
Melalui penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar, para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci di antara nutrient utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P)) di dalam proses eutrofikasi.
Sebuah percobaan berskala besar yang pernah dilakukan pada tahun 1968 terhadap Danau Erie (ELA Lake 226) di Amerika Serikat membuktikan bahwa bagian danau yang hanya ditambahkan karbon dan nitrogen tidak mengalami fenomena algal bloom selama delapan tahun pengamatan. Sebaliknya, bagian danau lainnya yang ditambahkan fosfor (dalam bentuk senyawa fosfat)-di samping karbon dan nitrogen-terbukti nyata mengalami algal bloom.
Menyadari bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap permasalahan ini. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat, seperti detergen dan limbah manusia, ada juga kelompok yang secara tegas melarang keberadaan fosfor dalam detergen. Program miliaran dollar pernah dicanangkan lewat institusi St Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem air. Sebagai implementasinya, lahirlah peraturan perundangan yang mengatur pembatasan penggunaan fosfat, pembuangan limbah fosfat dari rumah tangga dan permukiman. Upaya untuk menyubstitusi pemakaian fosfat dalam detergen juga menjadi bagian dari program tersebut.

Asal fosfat

Menurut Morse et al, 10 persen berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 persen dari industri, 11 persen dari detergen, 17 persen dari pupuk pertanian, 23 persen dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 persen, dari limbah peternakan. Paparan statistik di atas (meskipun tidak persis mewakili data di Tanah Air) menunjukkan bagaimana berbagai aktivitas masyarakat di era modern dan semakin besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang yang sangat besar bagi lepasnya fosfor ke lingkungan air.
Mengacu pada buku Phosphorus Chemistry in Everyday Living, manusia memang berperan besar sebagai penyumbang limbah fosfat. Secara fisiologis, jumlah fosfat yang dikeluarkan manusia sebanding dengan jumlah yang dikonsumsinya. Tahun 1987 saja rata-rata orang di AS mengonsumsi dan mengekskresi sejumlah 1,4 lb (pounds) fosfat per tahun. Bersandar pada data ini, dengan sekitar 290 juta jiwa populasi penduduk AS saat ini, maka sekitar 406 juta pounds fosfor dikeluarkan manusia AS setiap tahunnya.
Lantas, berapa jumlah fosfor yang dilepaskan oleh penduduk bumi sekarang yang sudah mencapai sekitar 6,3 miliar jiwa? Jika dihitung, akan menghasilkan sebuah angka yang sangat fantastis! Ini belum termasuk fosfat yang terkandung dalam detergen yang banyak digunakan masyarakat sehari-hari dan sumber lainnya seperti disebut di atas.
Tanpa pengelolaan limbah domestik yang baik, seperti yang terjadi di negara-negara dunia ketiga, tentu bisa dibayangkan apa dampaknya terhadap lingkungan hidup, khususnya ekosistem air.
Berapa sebenarnya jumlah fosfor (P) yang diperlukan oleh blue-green algae (makhluk hidup air penyebab algal bloom) untuk tumbuh? Ternyata hanya dengan konsentrasi 10 part per billion (ppb/sepersatu miliar bagian) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. Tidak heran kalau algal bloom terjadi di banyak ekosistem air. Dalam tempo 24 jam saja populasi alga bisa berkembang dua kali lipat dengan jumlah ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat di atas.
Tentu saja limbah fosfat yang lepas ke lingkungan air akan mengalami pengenceran di sungai-sungai, di samping sebelumnya telah melewati pula tahap pengolahan limbah domestik. Yang disebut terakhir secara ketat hanya berlaku di negara maju seperti AS dan Eropa. Berdasarkan ini pun, ternyata masih akan tersisa sejumlah 12-31 ppb fosfor yang notabene lebih dari cukup bagi tumbuhnya blue-green algae. Bisa diperkirakan (sebelum akhirnya dibuktikan) kandungan fosfat di banyak aliran sungai dan danau di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, akan jauh lebih tinggi dari angka yang disebutkan di atas. Dari sini kita bisa mengetahui betapa seriusnya persoalan yang diakibatkan oleh limbah fosfat ini

Penanganan eutrofikasi

Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal, tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat yang berlebihan, pertumbuhan penduduk Bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang semakin tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air.
Lalu apa solusi yang mungkin diambil? Menurut Forsberg, yang utama adalah dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk (birth control). Karena apa? Karena sejalan dengan populasi warga Bumi yang terus meningkat, berarti akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari sumber-sumber yang disebutkan di atas. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa mencegah lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditif fosfat.
Di negara-negara maju masyarakat yang sudah memiliki kesadaran lingkungan (green consumers) hanya membeli produk kebutuhan rumah sehari-hari yang mencantumkan label "phosphate free" atau "environmentally friendly".
Negara-negara maju telah menjadikan problem eutrofikasi sebagai agenda lingkungan hidup yang harus ditangani secara serius. Sebagai contoh, Australia sudah mempunyai program yang disebut The National Eutrophication Management Program, yang didirikan untuk mengoordinasi, mendanai, dan menyosialisasi aktivitas riset mengenai masalah ini. AS memiliki organisasi seperti North American Lake Management Society yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian danau melalui aktivitas sains, manajemen, edukasi, dan advokasi.
Selain itu, mereka masih mempunyai American Society of Limnology and Oceanography yang menaruh bidang kajian pada aquatic sciences dengan tujuan menerapkan hasil pengetahuan di bidang ini untuk mengidentifikasi dan mencari solusi permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan lingkungan.
Negara-negara di kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Phosphates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive 91/271 yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Mereka juga memiliki jurnal ilmiah European Water Pollution Control, di samping Environmental Protection Agency (EPA) yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.


Sumber : Wikipedia, risnotes.com (foto)

Stepa

Pengertian Stepa

Stepa yang dalam Bahasa Inggris disebut steppe, merupakan sebuah padang rumput biasanya terbentang dari daerah tropika sampai ke daerah subtropika yang curah hujannya tidak cukup untuk perkembangan hutan. Stepa adalah dataran tanpa pohon (kecuali yang berada di dekat sungai atau danau) yang umumnya ditumbuhi rumput pendek.
Bentuk dari stepa berupa semi-gurun, biasanya tertutup oleh rumput atau semak, atau mungkin keduanya, tergantung berdasarkan musim dan garis lintang. Istilah stepa juga digunakan untuk menunjukkan iklim pada suatu daerah yang terlalu kering untuk menunjang suatu hutan, hanya saja tidak cukup kering untuk menjadi gurun.
Stepa tidak dikelilingi oleh kumpulan-kumpulan pepohonan. Kalaupun ada mungkin hanya sedikit saja. Berbeda dengan sabana yang meskipun merupakan padang rumput tapi diselingi oleh kumpulan pepohonan besar.

Ciri-ciri Bioma Stepa

Ciri-ciri dari bioma Stepa antara lain adalah curah hujan yang tidak teratur, antara 250-500 mm/tahun. Tanah di stepa pada umumnya tidak mampu menyimpan air yang disebabkan oleh rendahnya tingkat porositas tanah dan sistem penyaluran yang kurang baik sehingga menyebabkan rumput-rumput tumbuh dengan subur, bahkan beberapa jenis rumput tingginya mencapai tiga setengah meter.
Stepa memiliki pepohon yang khas yaitu Akasia yang wilayah persebaran bioma stepa meliputi Afrika, Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian barat, Argentina dan Australia.
Flora yang berhasil hidup di bioma stepa adalah pohon akasia dan semak belukar. Sedangkan untuk faunanya meliputi herbivora dan karnivora, yaitu rusa, antelop, harimau, kanguru, harimau, singa dan ular. Ketika melihat Discovery Channel atau tayangan fauna seringkali diperlihatkan bagaimana keadaan stepa yang sesugguhnya. Di beberapa negara, biasanya stepa dijadikan sebagai tempat konservasi bagi binatang-binatang yang terbilang langka.
Di Indonesia, daerah yang paling banyak memilki stepa adalah Nusa Tenggara Timur. Masyarakat disana biasa menggunakan wilayah stepa atau padang rumput ini untuk area peternakan. Mulai dari beternak kambing, sapi, kerbau, hingga kuda. Wilayah stepa dinilai sangat mudah untuk dirawat sekaligus menyediakan banyak sumber makanan bagi ternak-ternak mereka.

Sumber : http://www.satwa.net

Hutan Sabana

Hutan Sabana adalah padang berumput yang dipenuhi oleh semak perdu dan beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar, seperti palem dan akasia.





Sistem biotik ini biasanya terbentuk di antara daerah tropis dan subtropis. Beberapa benua yang memiliki padang sabana di antaranya adalah Afrika, Amerika bagian Selatan, dan Australia.
Kurangnya curah hujan menjadi pemicu munculnya sabana, sehingga ia dikenal dengan sebutan padang rumput tropis. Iklimnya tidak terlalu kering untuk menjadi gurun pasir, tetapi tidak cukup basah untuk menjadi hutan.

Suhu & Musim
Suhu udara di daerah sabana tetap sama sepanjang tahun, yaitu hangat, tetapi sabana mempunyai dua musim yang sangat berbeda; musim kering yang sangat panjang (musim dingin), dan musim basah (musim panas).
Pada musim kering, hanya ada kira-kira empat inci curah hujan. Di antara bulan Desember dan Februari bahkan tidak ada hujan sama sekali. Namun anehnya, di musim kering tersebut cuaca terasa lebih dingin dari biasa.
Pada musim panas, sabana mendapat banyak air hujan. Di Afrika, musim hujan dimulai pada bulan Mei dan curah hujan mencapai 15 hingga 25 inci sepanjang waktu.
Cuaca menjadi panas dan lembap selama musim hujan berlangsung. Setiap hari, udara yang panas dan lembap menguap dan beradu dengan udara dingin sehingga berubah menjadi hujan.
Jenis-jenis Sabana
Ada beberapa tipe sabana yang berbeda di seluruh dunia. Sabana yang paling dikenal adalah yang terletak di Afrika Timur yang ditumbuhi oleh pohon-pohon akasia. Dataran Serengeti di Tanzania adalah salah satunya. Di sana hidup kawanan singa, zebra, gajah, jerapah, dan aneka jenis hewan-hewan sejenis kerbau.
Banyak mamalia besar pemakan rumput yang betah tinggal di sabana karena tersedia rumput dalam jumlah memadai. Dan keberadaan hewan-hewan herbivora tersebut mengundang karnivora yang ingin memburu mereka.
Wilayah sabana di Amerika Selatan, tepatnya di Brazil, Kolombia, dan Venezuela, luasnya mencapai 2,5 juta kilometer persegi. Namun hanya sedikit spesies hewan yang hidup di sabana Kolombia dan Venezuela, karena setiap tahun, daerah-daerah tersebut dibanjiri oleh Sungai Orinoco.
Beberapa jenis tanaman bisa beradaptasi tumbuh di genangan air, dan hewan capybara serta rusa rawa pun menyesuaikan diri untuk hidup di lingkungan semi-akuatik.
Sabana di Brazil lebih ramai populasi daripada tetangga-tetangganya. Keberagaman hewan di sabana Brazil sangat banyak, dengan beberapa jenis tanaman dan binatang langka yang tidak ada di tempat lain di seluruh dunia.
Ada pula sabana di wilayah utara Australia. Alih-alih akasia, pohon-pohon eukaliptus lebih mendominasi sabana di Australia. Keragaman hewani di daerah ini tidak terlalu menarik, tetapi terdapat binatang menawan yang khas, yaitu Kanguru.
 
Kerusakan Sabana
Di beberapa wilayah sabana di Afrika, penduduk sekitar mulai menggunakan padang rumputnya sebagai tempat untuk mengembangbiakkan sapi dan kambing. Ternak-ternak tersebut tidak digembalakan sehingga semak-semak di sana habis dimakan. Dengan ketiadaan vegetasi, sabana kemudian berubah menjadi gurun pasir.
Sejumlah besar area sabana di Afrika berubah menjadi bagian Gurun Sahara dari tahun ke tahun karena penggunaan lahan untuk peternakan tersebut. Selain itu, padang-padang sabana juga diubah menjadi tanah pertanian.
Kerusakan yang dialami banyak wilayah sabana sungguh patut disayangkan karena mengacaukan ekosistem dan memicu punahnya hewan-hewan serta berbagai tanaman eksotis. Transformasi lahan yang relatif subur menjadi padang gurun pun menyebabkan kenaikan suhu bumi secara global.
 
Sumber : http://ilmu-kehutanan.blogspot.com

Hutan homogen

Hutan homogen adalah hutan yang terdiri atas satu jenis pohon dan biasanya merupakan hutan hasil budi daya.

Contoh :  
A. Hutan jati
 
Hutan jati adalah sejenis hutan yang dominan ditumbuhi oleh pohon jati (Tectona grandis). Di Indonesia, hutan jati terutama didapati di Jawa. Akan tetapi kini juga telah menyebar ke berbagai daerah seperti di pulau-pulau Muna, Sumbawa, Flores dan lain-lain.
Hutan jati merupakan hutan yang tertua pengelolaannya di Jawa dan juga di Indonesia, dan salah satu jenis hutan yang terbaik pengelolaannya.

·         Ciri Khusus Pohon Jati:
Perakaran dalam dengan tipe tunggang,
Batang monopodial (hanya memiliki satu batang pokok),
Tipe percabangan arah agak keatas,
Tipe daun tunggal,
Duduk daun berseling,
B. Hutan bambu 

Hutan Bambu adalah hutan yang ditumbuhi oleh tanaman bamboo dan jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Bambu memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60cm (24 Inchi) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ia ditanam.
Jika kita perhatikan pertumbuhan bambu begitu cepat berkembang di daerah daerah yang dingin dan agak lembab. Di setiap lokasi begitu banyak bambu yang tumbuh misalnya didaerah dekat dengan aliran sungai, tebing-tebing ataupun di pinggir pinggir danau.

Sumber : http://wandanar.blogspot.com/

Hutan Heterogen

 
Hutan heterogen adalah hutan yang terdiri atas beraneka ragam jenis tumbuhan, dari pohon-pohon rendah sampai pohon yang tinggi. Hutan ini biasanya bersifat alami atau primer, contohnya hutan hujan tropis , hutan rimba. Biasanya di daerah tropic yang banyak hujannya seperti di Amerika Tengah dan Selatan , Afrika , Asia Tenggara , dan Australia Timur Laut pohon - pohonnya tinggi dan berdaun lebar . Di Indonesia hutan Heterogen antara lain terdapat di pulau Jawa , Sumatra , Kalimantan , dan Irian Jaya .

Sumber : http://yositasindip.blogspot.com

Hutan Hujan Tropis

 Pengertian dan definisi dari Hutan Hujan Tropis banyak diberikan oleh para ahli. Mereka membahas kondisi-kondisi yang menunjang terbentuknya hutan hujan tropis di dunia. Menurut Whitmore, istilah Hutan Hujan Tropis mulai dipakai pada tahun 1898 dalam buku Plant Geography diperkenalkan oleh A. F. W. Schimper, dan istilah ini tetap dipakai sampai sekarang.

 
Hutan hujan tropis merupakan hutan daun lebar yang selalu hijau dengan tingkat kerapatan pohon yang tinggi. Hutan ini terdapat pada daerah-daerah yang suhunya tinggi sepanjang tahun, dengan curah hujan yang tinggi sekurang-kurangnya 1800-2000 mm per tahun dan tersebar merata. Pada hutan hujan tropis dicirikan dengan adanya tingkat kelembaban yang selalu tinggi, biasanya 80% atau lebih.
Struktur hutan hujan tropis terdiri dari tajuk yang berlapis-lapis. Lapis tajuk yang paling atas terdiri dari pohon-pohon yang muncul di antara lapis tajuk di bawahnya (kedua) dengan tinggi antara 45 – 60 m. Pohon pada lapis teratas umumnya mempunyai tajuk yang kecil dan tidak teratur dengan sedikit susunan cabang. Lapis tajuk kedua merupakan kanopi utama yang umumnya terdiri dari jenis-jenis pohon yang ramping dengan tinggi antara 30-40 m. Lapisan tajuk di bawahnya terdiri dari jenis-jenis pohon yang sangat toleran, dengan batang yang ramping, tinggi dan tajuk yang kecil, terdapat banyak epifit pada cabang yang tinggi.
Pada lantai hutan banyak terdapat jenis-jenis tumbuhan bawah seperti palem kecil, jenis-jenis bambu, rotan, paku-pakuan dan jenis-jenis lainnya, atau mungkin hampir tanpa tumbuhan bawah.
Hutan hujan tropis dikenal juga mempunyai tingkat keranekaragaman yang tinggi, banyak jenis yang belum diketahui dan mempunyai nilai komersil. Apabila terjadi penebangan maka permudaan secara alami oleh jenis-jenis yang berbeda dengan jenis-jenis penyusun hutan asli.
Hutan hujan tropis terbentuk di daerah sekitar khatulistiwa, yaitu Amerika Selatan (Brasil, Peru, Bolivia, dll), Afrika (Tanzania, Kenya, dll) serta daerah Asia Pasific (Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea).

Sumber : irwantoforester.wordpress.com

5 Danau Terbesar di Indonesia

Indonesia merupakan Negara dengan luas wilayah yang besar. Ia merupakan Negara kepulauan berbentuk republik. Dengan luas wilayah yang luas, hampir semua hal bisa ditemukan di sini termasuk di dalamnya danau. Apa itu danau? Danau merupakan cekungan berukuran besar yang ada di permukaan bumi dan berisi air tawar atau asin. Di Indonesia, ada berbagai macam danau. Mulai yang kecil hingga besar. Jika dicermati, sebagian besar danau di Indonesia berada di Pulau Sumatera. Nah, pada artikel ini kami akan menyajikan 5 danau terbesar yang ada di wilayah nusantara. Penyortiran dilakukan berdasarkan luas danau dan bukan bagaimana danau tersebut terbentuk. Adapun danau-danau yang dimaksud sebagai berikut:
  1. Danau Toba di Sumatera Utara (Luas: 107.216 Ha). Danau ini begitu tersohor bahkan hingga ke mancanegara. Ia merupakan danau vulkanik terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Uniknya, tepat pada bagian tengan danau toba ini terdapat pula vulkanik yang dikenal dengan nama Pulau Samosir. Sejak dahulu, danau toba sudah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling penting di Sumatera Utara. Di danau toba ini ada banyak jenis rekreasi yang bisa pengunjung coba.                             
  2. Danau Towuti di Sulawesi Tengah (Luas: 59.840 Ha). Danau yang satu ini secara administrative berada di wilayah Kecamatan Towuti, Luwu Timur Sulawesi Selatan. Danau ini masuk ke dalam titik Taman Wisata Danau Tuwoti yang dikelola lembaga bernama BKSDA atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan. Lembaga ini menjalankan fungsinya di bawah Kementrian Kehutanan Republik Indonesia.        
  3. Danau Sentani di Papua (Luas : 34.375 Ha). Danau yang satu ini merupakan yang terbesar di Papua. Ia juga sekaligus menjadi kawasan wisata terpopuler di sana. Danau sentani ini setiap tahunnya menjadi lokasi pelaksanaan berbagai festival yang terkenal di Papua.
  4. Danau Poso di Sulawesi Tengah (Luas : 34.280 Ha). Danau di Indonesia terbesar selanjutnya terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Ia berada di ketinggian 657 meter di atas permukaan laut. Danau ini memang belum banyak dikelola oleh Pemerintah Daerah. Tapi, keelokannya tetap memukau siapa saja yang pernah mengunjunginya. http://rempatholiday.com/wp-content/uploads/2014/06/danau-poso.jpg
  5. Danau Matana di Sulawesi Selatan (Luas : 16.640 Ha). Danau yang satu ini berada di Sorako Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan. Danau ini memiliki kedalaman hingga 590 meter.

Danau di Indonesia
lainnya sebenarnya masih banyak. Ada pula Danau Ranau yang berada di Lampung dan juga Komering Ulu Selatan. Ia dikategorikan sebagai danau terbesar kedua jika dilihat dari volume air yang bisa ditampungnya. Danau ini memiliki panjang hampir 16 Km dengan lebar 8 Km. Kedalaman yang dicapai danau hingga 229 meter dan bobot air yang bisa ditampung sebanyak 21.95 km kubik. Selain Ranau, Danau penting lainnya yang wajib disebutkan adalah Danau Tempe di Sulawesi, Danau Singkarak dan Maninjau di Sumatera serta masih banyak lagi lainnya.

Sumber : http://palingseru.com

10 Gunung Tertinggi di Indonesia

Sesuai judul postingan saya ini, saya akan memberitahukan 10 gunung tertinggi yang ada di Indonesia. Silahkan disimak.


  1. Gunung Puncak Jaya (4.884 meter), Papua

     
  2. Gunung Kerinci (3.805 meter), Jambi
     
  3. Gunung Rinjani (3.726 meter), Nusa Tenggara Barat
  4. Gunung Latimojong (3.680 meter), Sulawesi Selatan

  5. Gunung Semeru (3.676 meter), Jawa Timur

  6. Gunung Slamet (3.432 meter), Jawa Tengah
  7. Gunung Sumbing (3.371 meter), Jawa Tengah
  8. Gunung Arjuno (3.339 meter), Jawa Timur

  9. Gunung Raung (3.322 meter), Jawa Timur

  10. Gunung Lawu (3.265 meter), Jawa Timur 
 Sumber : http://top10semua.blogspot.com

10 Sungai Terpanjang di Indonesia


Sungai memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, saat ini telah banyak didayagunakan untuk berbagai keperluan yang dapat memberikan manfaat yang lebih banyak bagi penduduk di sekitarnya maupun untuk masyarakat luas. Sungai sebagai kekayaan alam telah difungsikan menjadi pembangkit tenaga air (PLTA), sarana transportasi, budidaya perikanan dan tentunya juga sebagai sumber air bagi pertanian.
Indonesia yang merupakan Negara Kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau ini memiliki lebih dari seratus sungai baik yang berukuran kecil maupun besar. Beberapa sungai terpanjang di Indonesia ini terletak di pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Papua.
Dari sekian banyak sungai yang terdapat di Indonesia, Sungai yang paling panjang di Indonesia adalah Sungai Kapuas yang terletak di Pulau Kalimantan dengan panjang sungai sekitar 1.143 km. Sungai Kapuas yang dimulai dari Pengunangan Muller sampai ke Selat Karimata ini  melewati berbagai wilayah di Provinsi Kalimantan Barat sehingga dijadikan sebagai salah satu jalur Transportasi yang penting bagi penduduk provinsi Kalimantan Barat.

Daftar 10 Sungai Terpanjang di Indonesia
Berikut ini adalah daftar Sungai-sungai Terpanjang di Indonesia beserta kepanjangan dan lokasi sungai yang bersangkutan.

1. Sungai Kapuas

 
Panjang Sungai           : 1.143 km
Mata Air              
       : Pengunungan Muller
Hilir                       
      : Selat Karimata
Lokasi                   
     : Pulau Kalimantan (Provinsi Kalimantan Barat)
Keterangan       
          : Sungai Terpanjang di Pulau Kalimantan

2. Sungai Mahakam
 
Panjang Sungai           : 920 km
Hilir                             : Selat Makasar
Lokasi                         : Pulau Kalimantan (Provinsi Kalimantan Timur)
Keterangan                  : Sungai Terpanjang kedua di Pulau Kalimantan

3. Sungai Barito
 
Panjang Sungai           : 909 km
Mata Air               :      Pengunungan Muller
Hilir                             : Laut Jawa
Lokasi                         : Pulau Kalimantan (Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan)
Keterangan                  : Sungai Terpanjang ketiga di Pulau Kalimantan

4. Sungai Batanghari
 
Panjang Sungai           : 800 km
Mata air                       : Gunung Rasan
Hilir                             : Muara Sabak (bagian Timur Pulau Sumatera)
Lokasi                         : Pulau Sumatera (Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi)
Keterangan                  : Sungai terpanjang di Pulau Sumatera

5. Sungai Musi
 
Panjang Sungai           : 750 km
Mata air                       : Daerah Kepahiang, Bengkulu
Hilir                             : Daerah Sungsang (bagian Timur Pulau Sumatera)
Lokasi                         : Pulau Sumatera (Provinsi Sumatera Selatan)
Keterangan                  : Sungai terbesar kedua Pulau Sumatera

6. Sungai Mamberamo
 
Panjang Sungai           : 670 km
Mata air                       : Pertemuan beberapa anak sungai (Sungai Tariku, Van Sungai Daalen, Sungai Taritatu)
Hilir                             : Samudera Pasifik
Lokasi                         : Pulau Papua (Provinsi Papua)

7. Sungai Begawan Solo
 
Panjang Sungai           : 548 km
Mata air                       : Gunung Lawu
Hilir                             : Laut Jawa
Lokasi                         : Pulau Jawa (Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur)
Keterangan                  : Sungai Terpanjang di Pulau Jawa

8. Sungai Digul
 
Panjang Sungai           : 525 km
Mata air                       : Pengunungan Maoke
Hilir                             : Laut Arafuru
Lokasi                         : Pulau Papua

9. Sungai Indragiri
 
Panjang Sungai           : 500 km
Mata Air                      : Berasal dua sungai yaitu Sungai Ombilin dan Sungai Sinamar
Hilir                             : Selat Malaka
Lokasi                         : Pulau Sumatera (Provinsi Riau)

10. Sungai Seruyan
 Penampakan Sungai Seruyan di Google Maps
Panjang Sungai           : 350 km
Mata Air              
       : Bagian Utara Provinsi Kalimantan Tengah
Hilir                       
     : Laut Jawa
Lokasi                  
      : Pulau Kalimantan (Kalimantan Tengah)

Fakta - Fakta Tentang Hujan

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara tropis, ciri umum wilayah yang disebut tropis adalah memiliki curah hujan yang banyak. Dalam artikel ini akan kita bahas tentang fenomena keunikan hujan dan fakta yang mungkin terlewatkan dari kita.

1. Rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam.

2. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepat-an yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.

3. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter.

4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm.

5. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter.

6. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi.

7. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505×1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.

8. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik.

9. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yg indah, tidak seperti air biasa yang di bekukan di freezer/kulkas.

10. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan ‘petrichor’.

11. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”.

Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi..

Sumber : http://www.beritaunik.net

14 Alasan Mengapa Harus Menjaga Hutan

Hampir sepanjang tahun lalu, Greenpeace telah melakukan investigasi dan mendokumentasikan operasi kotor para perusak lingkungan dan hutan di Indonesia yang masih tersisa. Investigasi ini mengungkapkan kisah tentang sebuah perusahaan besar, dengan perilaku tidak bertanggung jawab dan melanggar hukum serta berhubungan langsung dengan hilangnya satwa yang terancam punah seperti harimau Sumatera.  Jika hal itu belum cukup buruk, masih ada kabar lainnya: kita semua adalah bagian dari masalah tersebut.
 

Laporan “Izin Untuk Memusnahkan” menunjukan bagaimana produsen pembuat biskuit Oreo, Gilette dan Clearasil, mengambil minyak sawit melalui Wilmar Internasional dan secara efektif membuat konsumen – yaitu saya dan Anda – tanpa disadari menjadi kaki tangan penghancuran hutan Indonesia.
Kami di sini menyoroti penghancuran lingkungan yang secara sengaja dilakukan oleh korporasi global.
Inilah 14 alasan mengapa kita harus menyampaikan pada perusahaan-perusahaan tersebut untuk menerapkan kebijakan nol deforestasi dan memastikan bahan-bahan yang mereka gunakan berasal dari sumber yang benar-benar bertanggung jawab :

14.  Dari semua spesies yang hidup didarat, sekitar dua pertiganya menyebut hutan sebagai rumah mereka.

13. Harimau adalah spesies indikator, tanda yang penting dari kesehatan hutan. Ketika harimau tidak bisa lagi tinggal didalam hutan, kelangsungan hidup hutan dan spesies lainnya yang bergantung padanya juga berada dalam resiko.

12. Sedikitnya 400 harimau Sumatera diperkirakan tersisa di alam bebas hutan hujan Sumatera, dan menghilang pada tingkat yang cukup mengejutkan – seperempat juta hektar setiap tahun. Ekspansi perkebunan kelapa sawit untuk pembuatan shampoo, pasta gigi, coklat, sampul majalah dan kertas toilet, bertanggung jawab untuk hampir dua pertiga dari kerusakan hutan dan habitat harimau dari tahun 2009 hingga 2011.

11. Saat ini, harimau Sumatera digolongkan sebagai satwa yang ‘terancam punah’ dalam daftar spesies yang terancam dari IUCN. Kategori selanjutnya adalah ‘punah di alam’

10. Deforestasi meningkatkan konflik antara harimau dan manusia dan membuat harimau menjadi lebih rentan terhadap perburuan. Antara tahun 1998 dsampai 2011, 638 konflik manusia dan harimau tercatat terjadi di Sumatera, dimana harimau membunuh 72 orang dan melukai 63 lainnya. Konflik ini memyebabkan terbunuhnya 59 harimau.

9. Tidak hanya bagi harimau. Hutan Indonesia juga adalah rumah bagi banyak satwa langka termasuk Gajah Pigmi, gajah terkecil di Asia, dan salah satu jenis gajah yang paling sulit dipahami di dunia.

8. Kanguru pohon sangat tangkas dan gesit di pepohonan, mampu melompat sejauh 30 kaki dari satu pohon ke pohon lainnya.  Mahluk langka ini tinggal di hutan hujan Indonesia, Papua Nugini dan Australia. Mereka kehilangan hutan tempat tinggal dengan sangat cepat.

 
7. “Orang Hutan” adalah terjemahan bahasa Melayu dari orangutan, sebuah nama yang luar biasa, karena mereka berbagi sekitar 97% DNA dengan manusia.  Dengan rentang lengan yang sangat besar (seekor orangutan jantan dapat  merentangkan lengannya hingga 7 kaki dari ujung ke ujung), primata yang hebat ini menghabiskan hampir seluruh hidup mereka di antara pepohonan, yang menjadikan mereka sangat rentan terhadap akibat deforestasi. Orangutan Sumatera maupun Kalimantan dapat punah di alam liar sebagai populasi biologis dalam waktu sepuluh hingga dua puluh tahun kedepan. 

6. Banyak hutan di Indonesia terletak di lahan gambut, yang merupakan daerah rawa basah dengan kandungan karbon terkaya di dunia. Riau diperkirakan menyimpan 40% karbon lahan gambut Indonesia  setara dengan nilai emisi gas rumah kaca global dalam setahun.  Lahan gambut sering kali dikeringkan untuk menyiapkan kondisi yang baik bagi perkebunan kelapa sawit, yang menyebabkan emisi karbon yang signifikan serta kontribusi bagi perubahan iklim.

5. Satu dekade lalu, sebuah survey ilmiah  menemukan bahwa Taman Nasional Teso Nilo di Indonesia adalah lokasi dengan keanekaragaman hayati tumbuhan paling kaya di dunia. Laporan kami menunjukan bagaimana, sejak tahun 2011, penghancuran besar-besaran di Teso Nilo – sebagian besar untuk kelapa sawit – telah menghancurkan hampir setengah dari luas hutan yang masih tersisa.  Bulan Juni tahun 2013, hanya 39.000 hektar hutan alami yang masih tersisa.

4. Greenpeace mengakui kelapa sawit, jika diproduksi secara  berkelanjutan memiliki banyak kegunaan dan manfaat. Kegiatan pertanian ini, yang termasuk nol pembakaran, tanpa penggunaan herbisida, dan pengelolaan air yang lebih baik untuk menjaga sistem pengairan lahan gambut, termasuk pendekatan inovatif produksi kelapa sawit  telah membawa keuntungan sosial ekonomi serta membantu melindungi hutan yang tersisa.    

3.  Wilmar dan merek-merek produk rumah tangga yang membeli minyak sawit harus mengetahui besarnya konsekuensi dari produksi minyak sawit yang tidak bertangung jawab. Mereka harus memastikan rantai pasokan minyak sawit mereka memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan di Indonesia, dan bukan malahan menghancurkan masa depan masyarakat, satwa dan iklim global yang menjadi ketergantungan kita semua. 

2. Kita tidak ingin terlibat dan ikut bersalah atas kepunahan harimau dan deforestasi saat kita bercukur atau makan coklat.  

1. Hutan, seperti halnya Arktik, milik kita semua, bagian yang integral dari warisan bangsa. Kami percaya tak seorangpun berhak menghancurkan warisan berharga ini, dan pastinya bukan untuk keuntungan komersil jangka pendek. Hutan adalah kekayaan yang harus dikelola secara berkesinambungan untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia.

 
 
Sumber : http://www.greenpeace.org