Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan

Tari Gambuh

Gambuh adalah sebuah drama tari warisan budaya Bali, yang memperoleh pengaruh dan drama tari zaman Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang dikenal dengan nama Rakêt Lalaokaran. Drama tari klasik yang lahir di Puri pada masa lampau, masih dilestarikan diberbagai daerah di Bali, yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan. Rakêt telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, dan baru disebutkan lagi dalam Kidung Warjban Wideya dari abad XVI. Rakêt Lalaokaran yang juga disebut Gambuh Ariar adalah pertunjukan berlakon yang merupakan perpaduan antara Rakêt dengan Gambuh. Gambuh abad XVI ini adalah tarian perang yang merupakan kelanjutan dan Bhata Mapdtra Yuddha, yaitu tarian perang untuk menghibur rakyat Majapahit yang melaksana upacara Shreiddha.
 
 
Penelitian yang mengkaji asal-usul Gambuh  serta pengaruhnya pada dramatari Arja ini, merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan etnokoreologi, yaitu sistem analisis yang memadukan penelitian tekstual dengan penelitian kontekstual. Kedua drama tari ini memiliki aspek-aspek yang multilapis, sehingga dalam kajiannya akan melibatkan pula metode, teori maupun konsep-konsep disiplin lainnya. Penelitian untuk disertasi ini juga menyajikan pembahasan tekstual secara lebih rinci, yaitu dengan melakukan perbandingan antara Gambuh dengan  Arja dilihat dari unsur-unsur yang membangun kedua drama tari tersebut. Studi banding ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa banyak persamaan yang dimiliki, serta seberapa jauh perbedaan yang ditunjukkan oleh kedua drama tari tersebut.
Terwujudnya Gambuh sebagai dramatari istana yang adiluhung telah memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan seni pertunjukan di Bali. Gambuh yang terbentuk di Bali tidak hanya memperkenalkan cerita sebagai lakon yang memunculkan adanya struktur dramatik yang lengkap, akan tetapi memperkenalkan pula koreografi yang rumit dan penampilan yang artistik, untuk hiburan raja dan para bangsawan kerajaan. Bentuk pertunjukan Gambuh memiliki standar kualitas tertentu yang mencirikan Gambuh, yaitu memiliki struktur pertunjukan dan koreografi serta iringan musik yang pasti, perbendaharaan gerak yang lengkap dengan aturan-aturan yang ketat, yang tidak dimiliki oleh Bali sebelumnya. Begitu pula kostum yang digunakan sangat megah, berbeda dengan kostum yang digunakan oleh tarian-tarian sebelumnya yang sangat sederhana. Itulah yang menyebabkan Gambuh  dikatakan sebagai sumber drama tari yang muncul kemudian di Bali.
Salah satu drama tari yang mendapat pengaruh dari Gambuh adalah drama tari opera arja. Arja adalah dramatari opera yang menggunakan tembang dan dialog sebagai media ungkap lakon yang ditampilkan. Dilihat dari bentuk pertunjukkan arja yang sekarang dengan bentuk pertunjukan pada mulanya ketika masih disebut dadap, tampak perbedaan yang sangat mencolok. Hal ini menunjukkan perbedaan dramatari opera arja seperti sekarang ini telah melalui suatu proses transformasi dengan rentangan waktu yang sangat lama. Dramatari arja yang muncul dikalangan masyarakat jelata sebagai sebuah pertunjukan yang sederhana pada mulanya, telah berubah secara bertahap menjadi bentuk seni pertunjukan yang memiliki unsur-unsur pokok Gambuh dalam bentuk yang lebih menarik.
Gambuh yang muncul sebagai drama tari istana telah berkembang sesuai dengan kehidupan masyarakat Bali yang religius. Ditemukannya lontar Dharma Pagambuhan dalam penelitian ini, menunjukan hubungan yang erat antara seni pertunjukan dengan kehidupan ritual keagamaannya. Lontar Dharma Pagambuhan merupakan lontar tuntunan spiritual untuk dramatari Gambuh, yang berisi pertunjukan berupa mantra-mantra yang harus diketahui oleh penari maupun Penabuh Gambuh. Lontar ini juga memuat jenis-jenis sesajen yang harus dipersembahkan ketika melakukan pementasan Gambuh. Digunakannya jenis-jenis sesajen yang dimuat dalam Dharma Pagambuhan oleh genre seni pertunjukan lainnya di Bali merupakan pertunjukan pula, bahwa Gambuh adalah sumber drama tari Bali yang tercipta kemudian.
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa Gambuh memang berasal dari zaman Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang telah mengalami perubahan dan perkembangan di Bali. Kehadiran Gambuh tepat pada saat bali sedang mengalami kebangkitan kembali dalam bidang seni, yaitu pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-1550). Gambuh yang memiliki elemen-elemen dramatari yang sangat lengkap, telah menjadikannya lengkap, telah menjadikannya sumber, yang kemudian mempengaruhi bentuk-bentuk seni pertunjukan yang lahir kemudian. Arja merupakan transformasi Gambuh ke dalam bentuk pertunjukan yang memiliki nuansa baru serta karakter yang berbeda dengan sumbernya. Arja memiliki unsur-unsur pokok Gambuh dalam bentuk yang lebih menarik, dalam arti sesuai dengan jiwa zamannya. Semua itu berkat peran para penari Gambuh yang terlibat dalam pembentukannya, termasuk peran istana yang telah membangun arja sebagai arja due purl (arja milik istana), yang juga turut memberikan pengaruh dan dampak yang menguntungkan dalam dunia seni pertunjukan di Bali. Tari gambuh biasanya dipentaskan pada saat Hari Raya Galungan dalam rangka mengiringi serangkaian upacara pada Hari Raya Galungan tersebut selain itu juga dipergunakan pada saat orang setempat melaksanakan acara pernikahan, selain itu juga banyak dicari atau diundang oleh desa tetangga dalam rangka mengiringi upacara yadnya juga, orang setempat menyebutnya Nunas Tirta Gambuh. Pada hari Raya Galungan, Tari Gambuh ini dipentaskan pada sore atau malam hari H. Tokoh - tokoh dalam tari Gambuh tersebut lumayan banyak juga. Awalnya tari Gambuh ini dimulai dengan mementaskan 2 penari dengan tokoh "Condong dan Galuh" biasanya disebut Salah satu keunikan Gambuh adalah pada bentuknya, yang merupakan gabungan antara tari Jawa dan tari Bali, dimana Gambuh memasukkan cerita dalam tarian Bali karena tarian Bali pada zaman Pra-Hindu tidak memiliki cerita. Dalam perkembangannya, Gambuh yang semula hanya mengambil cerita Panji kemudian dapat menampung berbagai cerita klasik yang sesuai dengan struktur dramatikanya.
KESIMPULAN
Tari Gambuh adalah tarian drama tari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan merupakan drama tari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari sehingga sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali. Diperkirakan Gambuh ini muncul sekitar abad ke-15 yang lakonnya bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk total theater karena dikarena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya. Pementasanya dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lainya sebagainya. Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu. Tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya atau Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar dan Prabu. Dalam memainkantokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog, umumnya bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas,  Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya dan kasar.
        Gambuh yang masih aktif hingga kini terdapat di desa:
·         Batuan  (Ginayar)
·         Padang Aji dan budakeling (Karangasem)
·         Pedungan (Denpasar)
·         Apit Yeh (Tabanan)
·         Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng)


4tmaj4.wordpress.com

Tari Perang


Tari Perang adalah salah satu nama tarian yang berasal dari Papua Barat. Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Tarian ini biasanya dibawakan oleh masyarakat pegunungan. Digelar ketika kepala suku memerintahkan untuk berperang, karena tarian ini mampu mengobarkan semangat.
 
Papua adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah keragaman adat, suku dan budaya yang terbanyak. Dari hasil pengumpulan data oleh tim yang dibentuk kepala Dinas Kebudayaan dan Provinsi Papua dan setelah di seleksi dan ditetapkan melalui seminar yang melibatkan tokoh Adat, tokoh Agama, tokoh Perempuan, tokoh Pemuda dan tokoh Masyarakat mewakili 7 wilayah adat yaitu: Wilayah Adat Mamta, Wilayah Adat Saireri, Wilayah Adat Bomberai, Wilayah Adat Domberai, Wilayah Adat Ha-Anim, Wilayah Adat La-Pago, Wilayah Adat Mi-Pago, ternyata sebanyak 248 suku. Penetapan jumlah 248 suku asli ini merupakan data informasi sementara dan terbaru.
 
Dari keragaman jumlah ini, kita bisa membayangkan betapa kaya akan sumber penelitian bagi para akademisi antropologi, budayawan, seniman dll. Dalam dunia seni pertunjukan, perkembangan tari di Indonesia berhubungan erat dengan perkembangan masyarakat. James R. Brandon (1967) membagi perkembangan pertunjukan di Asia Tenggara dapat dibagi menjadi 4 periode yaitu: Periode pra-sejarah, sekitar 2500SM-100M. Periode masuknya kebudayaan India, 100-1000. Periode masuknya pengaruh Islam, 1300-1750. Periode masuknya negara barat, 1750-akhir perang dunia ke-2.
 
Dilihat dari segi antropologi budaya di Papua, dan analisis perkembangan seni tari di Asia Tenggara, Tari Perang dari masyarakat Papua Barat ini mengarah pada karya seni pertunjukkan periode prasejarah. Masyarakat Papua, hingga hari ini tetap menjaga dan melestarikan tarian ini sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang dan harga diri sebuah bangsa atau suku. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan masyarakat dan keseniannya tidak merupakan perkembangan yang terputus satu sama lain, melainkan saling berkesinambungan. Mereka percaya bahwa sejak dahulu nenek moyang masyarakat Papua selalu berharap, bahwa budaya yang telah diwariskan kepada setiap generasi tidak luntur, tidak tenggelam dan tidak terkubur oleh berbagai perkembangan zaman yang kian hari kian bertambah maju. Seperti halnya budaya tarian-tarian yang telah mereka ciptakan dengan berbagai gelombang kesulitan, kesusahan dan keresahan tidak secepat dilupakan oleh generasi berikutnya.
 
Banyak catatan yang mengisahkan peperangan antar suku di Papua pada jaman pra-sejarah, seperti tarian perang Velabhea, yaitu tarian yang mengisahkan perang suku di Sentani. Masyarakat Papua menggunakan tarian perang untuk memberi dorongan spiritual dalam menghadapi peperang. Namun seiring perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya peperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamu undangan.
 
Tarian perang Papua ini termasuk dalam tarian grup, atau bahkan bisa menjadi tarian kolosal. Karena tidak ada batasan jumlah penari. Seperti umumnya tarian di Papua, tarian perang pun diringi tifa dan alat musik lainnya, yang menjadi pembeda adalah lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Dengan mengenakan busana tradisional, seperti manik-manik penghias dada, rok yang terbuat dari akar, dan daun-daun yang disisipkan pada tubuh menjadi bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam.

Sumber : foto.news.viva.co.id | http://budaya-indonesia.org

Tari Tor-Tor

Tari tor-tor adalah tarian khas suku Batak, Sumatera Utara, tepatnya Mandailing. Gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.
Tari tor-tor dulunya digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur). Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

 

Sejarah
Menurut sejarahnya, tor tor sudah ada sejak abad ke 13 di Sumatera Utara. Nenek moyang orang Mandailing diperkirakan berasal dari suku Karen yang tinggal di perbatasan Burma dan Myanmar. Tari tor tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh.
Di masa lalu, tari ini dilakukan oleh patung-patung batu yang telah dimasuki roh. Roh itu menggerakkan batu seperti menari namun dengan gerakan yang kaku.
Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu di bersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut. Tor-tor menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang batak.
Tarian tor-tor juga dipakai pada pesta pernikahan, bagi orang Batak Tor-tor merupakan tarian yang sangat dijaga sampai sekarang. Banyak orang yang mengenal tarian Tor-tor karena tarian ini selalu digunakan oleh beberapa sanggar tari.
Ragam Tor-tor
Jenis tarian tor-tor banyak ragamnya, yakni:
Tor tor Pangurason (tari pembersihan)
Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
Tor tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan)
Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).
Tor tor Tunggal Panaluan
Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.
Tor-Tor pada jaman sekarang untuk orang Batak tidak lagi hanya diasumsikan dengan dunia roh, tetapi menjadi sebuah seni karena Tor-Tor menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang Batak.
Tata Gerak dan alat musik Tari Tor Tor
Tari Tor Tor termasuk sangat sederhana dalam hal gerakan. Para penari tor tor cukup membuat gerakan tangan yang cukup terbatas dengan gerakan kaki jinjit-jinjit mengikuti iringan musik yang disebut sebagai magondangi yang terdiri dari alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain. Selengkapnya bisa melihat video berikut ini.

Sumber  : http://citizendaily.net/ | kebudayaanindonesia.net

Tari Sekapur Sirih

Orang penting yang melancong ke tanah Jambi pastilah beruntung karena akan disuguhkan gerak tari yang lembut dan halus berkolaborasi dengan iringan musik dan syair yang agung. Tari tersebut ialah Tari Sekapur Sirih. Tari ini merupakan tarian selamat datang kepada tamu-tamu besar di Provinsi Jambi.

 

Tarian ini diciptakan oleh Firdaus Chatab pada tahun 1962. Pada tahun 1967 tarian ini ditata ulang oleh OK Hendri BBA. Tari ini mendeskripsikan perasaan lapang dan terbuka yang dimiliki orang-orang Jambi terhadap tamu yang berkunjung ke daerah mereka. Jumlah penari dalam tarian ini ialah 9 orang penari perempuan dan 3 orang penari laki-laki. Di antara dua belas penari tersebut satu orang bertugas memegang payung, dua orang pengawal, dan sisanya menari.

Sayangnya, hari ini antusiasme warga terhadap tarian ini berkurang. Hal tersebut terlihat dari jumlah penari yang menyusut dalam tarian ini, yaitu berjumlah enam orang, satu orang penari laki-laki yang bertugas membawa cerano, sisanya penari perempuan.

Gerakan melenggang, sembah tinggi, merentang kepak, berhias (memasang cincin, gelang, anting, serta bedak gincu dan calak), gerakan putar setengah, putar penuh menjadi bagian dari tarian ini. Gerakan tersebut dilakukan dalam posisi level rendah dan sedang sedangkan pola lantai yang dimainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat pementasan. Apabila dilakukan di gedung atau indoor pola lantai dapat dilakukan namun apabila di luar gedung atau outdoor pola lantai jarang dilakukan.

Cerano atau wadah yang berisikan lembaran daun sirih, payung, keris merupakan property yang digunakan dalam tarian ini. Untuk pakaian, para penari mengenakan baju kurung adat Jambi.  Senandung lagu rakyat Jeruk Purut  dan suara biola dan akordion berlanggam melayu dan ditemani oleh gambus, gong, dan gendang turut mengiringi tarian ini.

Para penari berhias tubuhnya dengan balutanssongket, baju kurung dalam, sedangkan hias kepala berupa sunting yang terdiri dari kembang goyang, beringin dan cempako. Pemanis lain yang juga digunakan ialah teratai, pending dan gelang. Namun, hari ini, seiring dengan perkembangan zaman, aksesoris yang dipakai bertambah. Misalnya, Gelang Kilat Bahu, Gelang Kano, Gelang Pipih dan Gelang Buku Beban atau juga disebut Gelang Puru, sedangkan sanggul Lipat Pandan, Sunting Beringin, dan Kembang Goyang menjadi perhiasan untuk kepala.

Sebenarnya, nama atau istilah dari tarian ini cukup beragam sama dengan beragamny varian tarian ini, salah satunya tari Penyambutan. Awalnya, tarian ini disebut tarian persembahan, kemudian mengalami perubahan menjadi Tari Penyambutan. Bedanya dengan tari sekapur sirih ialah bahwa tari Penyambutan adalah tari kreasi baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejei. Jumlah penari disesuaikan dengan tempat, bisa putra bisa putri, bisa juga berpasangan.

Masyarakat Rejang Lembak menyebut tari Penyambutan dengan sebutan tari Kurak, meskipun pada akhirnya nama tari Penyambutan dipilih untuk dibakukan. Musik dan Alat Musik dalam tari Penyambutan menggunakan musik Kejei.

Gerakan tarian ini terdiri dari sembah tari, yaitu tangan diangkat di atas bahu. Kemudian penari akan melakukan sembah tamu, yaitu gerakan tangan yang mengangkat tangan ke atas dada. Setelah itu penyerah siri melakukan pose setengah jongkok dan setengah berdiri untuk tarian yang dilakukan di luar rumah, sementara itu gerakan lantai dilakukan untuk tarian yang dilakukan di dalam rumah.

Sumber : http://kebudayaanindonesia.net | kynaokta.blogspot.com

Tari Serimpi

 




Tari Serimpi merupakan sebuah tarian klasik dari Yogyakarta. Tarian ini ditampilkan oleh empat orang penari wanita yang cantik dan anggun. Kata serimpi itu sendiri berarti empat. Namun ada juga Serimpi yang ditarikan oleh lima penari yaitu pada Serimpi Renggowati. Selain berarti empat, istilah serimpi juga dikaitkan dengan kata ‘impi’ yang berarti mimpi. Maksudnya, seseorang yang melihat tarian ini mungkin akan merasa seperti berada di alam mimpi.


Pertunjukkan tarian Serimpi biasanya berlangsung selama ¾ jam sampai 1 jam. Komposisi empat penari mewakili empat mata angin dan empat unsur dunia. Unsur dunia meliputi grama (api), angin (udara), toya (air), dan bumi (tanah). Tari klasik ini awalnya hanya berkembang di Kraton Yogyakarta. Menurut kepercayaan, Serimpi adalah seni yang luhur dan merupakan pusaka Kraton. Dalam tarian ini, tema yang disuguhkan oleh penari sebenarnya sama dengan tari Bedhaya Sanga. Tarian ini menggambarkan pertentangan antara dua hal yaitu antara benar dan salah, nafsu dan akal, dan benar dan salah.
Tari Serimpi diperagakan oleh empat putri yang masing-masing mewakili unsur kehidupan dan arah mata angin. Selain itu, penari ini juga memiliki nama peranannya masing-masing yakni Buncit, Dhada, Gulu, dan Batak. Saat menarikan Serimpi, komposisi penari membentuk segi empat. Bentuk ini bukan tanpa arti, tetapi melambangkan tiang Pendopo yang berbentuk segi empat.
Kemunculan tarian ini konon berasal dari masa Kerajaan Mataram ketika masa pemerintahan Sultan Agung. Tari ini dianggap sangat sakral karena hanya dilakukan di lingkungan Kraton untuk upacara kenegaraan dan peringatan naik tahta sultan. Tahun 1775, Mataram pecah menjadi dua yakni Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Hal ini juga berdampak pada tarian ini. Walaupun inti tariannya masih sama, namun Serimpi di Yogyakarta menjadi Serimpi Dhempel, Genjung, dan Babul Layar. Sementara di Surakarta menjadi Serimpi Bondan dan Anglir Mendung. Walaupun tarian ini sudah ada sejak lama, namun tarian tersebut baru diketahui oleh publik sekitar tahun 70an karena begitu sakralnya tarian ini Kraton.
Tema perang dalam tarian ini sebenarnya adalah falsafah kehidupan budaya ketimuran. Perang dalam tarian ini adalah simbolik peperangan yang tidak pernah habis yaitu antara kejahatan dan kebaikan. Bahkan dalam mengekspresikan gerakan tari perang, tari ini terlihat lebih jelas karena dua pasanga prajurit melawan prajurit lain dengan gerakan yang sama dibandu dengan dengan perlengkapan tari yang berupa senjata. Properti tari yang digunakan di antaranya adalah jebeng, cundrik atau keris kecil, pistol, jemparing, dan tombak pendek.
Dari segi pakaian, pakaian yang dikenakan oleh penari juga mengalami perkembangan dari sebelumnya. Jika awalnya pakaian yang dikenakan seperti pakaian pengantin putri Kraton dengan gelung bokor sebagai hiasan kepala dan dodotan, saat ini kostum penari beralih menjadi pakaian tanpa lengan, gelung dengan hiasan bunga ceplok, dan hiasan kepala bulu burung kasuari. Karakteristik dari penari Serimpi adalah mengenakan keris kecil yang diselipkan di bagian depan menyilang ke kiri.
Selain keris, para penari Serimpi juga kadang menggunakan jembreng yaitu semacam perisak. Pada jaman pemerintahan Sri Sultan HB VII yaitu pada abad ke-19, ada pula Tari Serimpi yang alat perangnya berupa pistol yang ditembakkan ke bawah. Pola iringan tarian ini menggunakan gending sabrangan untuk keluar dan masuknya para penari diiringi bunyi genderang dan musik tiup. Pada saat menari diiringi dengan gendhing ageng atau tengahan yang kemudian masuk gending ladrang. Selanjutnya ayak-ayak dan srebengannya diguanakn untuk mengiringi adegan peperangan.


Sumber : http://pusakapusaka.com | nunungdkusuma.wordpress.com

Reog Ponorogo


 


Satu diantara banyak seni tarian di Jawa Timur yang masih terus dilestarikan adalah reog. Seni ini berasal dari bagian barat laut. Ponorogo dianggap sebagai kota asal reog sebenarnya, sehingga disebut dengan Reog Ponorogo. Salah satu budaya Indonesia ini kental dengan hal-hal berbau mistis, sehingga sering diidentikkan dengan dunia hitam, dunia kekuatan supranatural.
Permainan seni reog selalu diiringi dengan musik tradisional atau disebut juga dengan gamelan. Peralatan musik yang biasanya digunakan sebagai pengiring reog yaitu gong, terompet, kendang, ketipung, dan angklung.
Masyarakat biasanya mementaskan reog saat acara khitanan, pernikahan, hari-hari besar nasional, dan festival tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Ponorogo. Festival tersebut terdiri dari Festival Reog Nasional, Festival Reog Mini Nasional dan Pertunjukan pada Bulan Purnama yang diselenggarakan di alun-alun Ponorogo. Festival Reog Nasional selalu dilaksanakan setiap tahun menjelang bulan Muharam atau dalam traidisi Jawa disebut dengan bulan Suro. Pertunjukan ini merupakan rentetan acara–acara Grebeg Suro dan Ulang Tahun Kota Ponorogo.
Grebeg Suro merupakan event budaya tersebar di kabupaten Ponorogo yang diselenggarakan dalam rangka menyongsong Tahun Baru Islam atau Tahun baru Saka yang sering dikenal sebagai tanggal satu Suro. Pagelaran kesenian Reog akbar ini bertaraf nasional sehingga pesertanya pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan pernah yang berasal dari luar negeri. Pertujukan ini menjadi salah satu andalan pemerintah daerah Ponorogo dalam meningkatkan daya tarik bagi wisatawan lokal maupun manca negara.
Demikian pula dengan dengan Festival Reog Mini tingkat nasional. Seluruh pesertanya adalah generasi muda atau golongan remaja. Mereka rata–rata masih duduk dibangku sekolah di tingkat SD atau SMP. Mereka adalah generasi penerus kesenian Reog yang nampaknya semakin berkembang. Pola kegiatannya hampir sama dengan Festival Reog Nasional, hanya saja yang berbeda adalah peserta, selain itu waktu pelaksanaannya adalah bulan Agustus.
Agenda pertunjukan kesenian reog yang lain dan tak kalah ramai dari pengunjung adalah pertunjukan Reog Bulan Purnama. Pentas ini rutin dilaksanakan bertepatan dengan malam bulam purnama. Peserta dari pentas ini adalah grup–grup lokal yang diwakilkan melalui kecamatan – kecamatan. Biasanya pentas ini disertai dengan beberapa pertunjukan tari garapan dari Sanggar seni di ponorogo atau kesenian lainnya.

Pementasan Reog Ponorogo
 


Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian dua sampai tiga tarian pembukaan. Enam sampai delapan pria gagah berani dengan pakaian serba hitam dan muka dipoles warna merah membawakan tarian pertamanya. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Selanjutnya enam sampai delapan gadis yang menaiki kuda melanjutkan tarian reog. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki berpakaian wanita. Biasanya, sebagai tarian pembukanya, beberapa anak kecil membawakan tarian dengan berbagai adegan lucu. Tarian ini disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Setelah mereka membawakan tarian pembukaan, ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka mereka menampilkan adegan percintaan. Bila acara khitanan, biasanya cerita pendekar.
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang, kadang-kadang dengan penonton. Terkadang bila seorang pemain yang sedang pentas kelelahan dapat digantikan oleh yang lain. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penonton. Adegan terakhir adalah singa barong. Pemain memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topengnya bisa mencapai 50-60 kg. Mereka membawa topeng tersebut dengan giginya. Kemampuan membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Asal Mula Reog
Meski terdapat berbagai versi terkait asal mula reog, tapi cerita yang paling populer dan berkembang di masyarakat adalah cerita tentang pemberontakan seorang abdi kerajaan pada masa kerajaan Majapahit terakhir Bhre Kertabhumi yang bernama Ki Ageng Kutu Suryonggalan. Bhre Kertabhumi merupakan raja Majapahit yang berkuasa pada abad ke-15.
Raja ini sangat korup dan tidak pernah memenuhi kewajiban layaknya seorang raja, sehingga membuat Ki Ageng Kutu murka kepada sang raja. Apalagi terhadap permaisurinya yang keturunan Cina itu memiliki pengaruh kuat terhadap kerajaan. Bukan hanya itu saja, rekan-rekan permaisurinya yang keturunan Cina mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Ki Ageng Kutu memandang, kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Lalu dia meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan yang mengajarkan seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan kepada anak-anak muda. Harapannya, anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sukur-sukur bisa melakukan perlawanan terhadap kerajaan.
Hanya saja, Ki Ageng Kutu menyadari, bahwa pasukannya terlalu kecil melakukan perlawanan terhadap pasukan kerajaan. Maka dari itu, Ki Ageng Kutu hanya bisa menyampaikan pesan dan sindirian melalui pertunjukan seni Reog. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. Seni reog digunakan oleh Ki Ageng Kutu sebagai sarana mengumpulkan massa untuk melakukan perlawanan terhadap kerajaan. Hal terpenting adalah sebagao saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu untuk menyindirnya.
Dalam pertunjukannya, ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai \\\"Singa barong\\\". Kemudian topeng berbentuk raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi. Diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya. Jatilan, diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit. Ini menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tokohnya disebut dengan Jathil. Sementara Warok adalah orang yang memiliki tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih.

Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya. Pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Meski begitu, kesenian Reog sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning Namun, di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan \\\"kerasukan\\\" saat mementaskan tariannya.
Versi lainnya mengenai asal-usul Reog adalah cerita tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya. Sang Prabu ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia bernama Pujangganong. Sang prabu menemukan pujaan hatinya, ia jatuh hatu kepada putri Kediri yang bernama Dewi Sanggalangit. Putri Kediri ini mau menerima Prabu Kelana asal dengan satu syarat, sang prabu harus bisa menciptakan sebuah kesenian baru. Diciptakanlah kesenian tersebut yang dikenal dengan reog dengan memasukan unsur mistis yang kekuatan spiritual, sehingga memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.
Namun, perubahan zaman dan perilaku manusia menyebabkan terjadinya pergeseran makna yang terkandung dalam kesenian Reog Ponorogo. Masyarakat Ponorogo saat ini mengganggap kesenian reog merupakan pelengkap dari sebuah acara atau hanya berupa sebuah hiburan saja. Misalnya pementaasan reog dilombakan pada acara-acara tertentu untuk memeriahkan acara tersebut, salah satunya perlombaan dalam festival.

Sumber : beritadaerah.co.id | intisari-online.com | http://kebudayaanindonesia.net/

Reog Kendang Tulungagung

Reog Kendang, dikenal juga dengan Reog Kendhang atau yang dipopulerkan dengan nama Reog Tulungagung, merupakan kesenian tradisional yang memiliki aras tradisi yang sama dengan Reog Ponorogo. Sejarah mencatat, adanya kesenian reog itu sendiri tidaklah lepas dari sejarah tentang keberadaan Kraton Kediri.Dalam Reog Kendang, barisan prajurit ini diwakili oleh enam orang penari dengan berbagai atribut yang dipakainya. Menariknya, setiap gerakan dalam Reog Kendang maupun atribut-atribut yang dipakai merupakan simbolisasi yang kaya dengan makna. Salah satu contohnya adalah Udheng. Ikat kepala yang terbuat dari kain batik motif gadung warna hitam ini memiliki makna sebagai lambang dari nilai persatuan dan kesatuan (dari para prajurit). Dan warna hitam sendiri melambangkan ketenangan, adil, tegas dan berwibawa.

 
  Reog Kendang Tulungagung yaiku kesenian tari rakyat kang ngambarake arak-arakan prajurit Kedhirilaya ing kagiatan ngiringi Ratu Kilisuci tumuju ing gunung kelud,kanggo nemoni Jathasura.Jroning tarian reog kendang Tulungaung kang dipunggawani kanthi cacah panari 6 wong lan ngambarake para prajurit. Tari ini disebut juga dengan Reog Tulungagung, Karen berkembang didaerah Tuliunggagung dan sekitarnya. Konon tarian ini melukiskan tentang iringan – iringan prajurit kediri ketika hendak menjebak raksasan di kawah gunung Kemput, Kisah tarian ini erat hubungannya dengan legenda terjadinya kota Kediri. Versi lain menyebutkan bahwa tarian ini diilhami oleh permainan gendang prajurit bugis dalam salah satu kesatuan laskar trunojoyo, Alat yang digunakan adalah Tam-Tam  (kendang kecil yang digendong)
Sejarah  Tari Reog Kendang
 Menurut catatan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung, Reog Kendang merupakan gubahan tari tradisional yang menggambarkan arak-arakan prajurit pasukan Kedhirilaya tatkala mengiringi rombongan pengantin Ratu Kilisuci ke Gunung Kelud. Alkisah, Putri Kilisuci sedang dilamar oleh Raja Bugis untuk dijadikan permaisuri. Dalam perjalanannya ke (arah0 Madiun, para prajurit yang mewakili Raja Bugis dalam melakukan lamaran ini tersesat lewat Ponorogo, Trenggalek dan Tulungagung sebelum akhirnya sampai di Kediri.
Secara keseluruhan, Reog Kendang mengilustrasikan tentang sebuah perjalanan yang harus ditempuh oleh para prajurit. Mulai dari gambaran tentang beratnya beban yang mereka bawa dan mereka harus terbungkuk-bungkuk membawanya, susahnya perjalanan yang dilalui dengan naik turun lembah-lembah yang curam sehingga mereka terseok-seok, sampai pada kegembiraan terhadap kemenangan yang dicapai oleh para prajurit. 

Sumber : http://tarijatim.blogspot.com | http://informasitips.com

Soal Seni Rupa Kelas 9 Semester 1

1. Bacalah dengan teliti ciri-ciri karya di bawah ini :
· Diungkapkan secara ekspresif dan spontan
· Menggambarkan roh nenek moyang
· Berkesan magis
· Penciptaannya digunakan untuk upacara ritual
Pernyataan di atas adalah menggambarkan ciri-ciri karya seni rupa jaman……
     a. primitive b. klasik c. modern d. neo klasik
2. Karya seni yang diciptakan dengan kaidah seni yang tinggi, menggambarkan idealisme atau kesempurnaan, diakui memiliki nilai seni yang tinggi sepanjang jaman. Pernyataan di atas merupakan cirri-ciri seni rupa jaman……..
     a. primitive b. klasik c. modern d. kuno
3. Gambar di samping ini adalah karya seni rupa jaman…………….
     a. primitive b. klasik
     c. modern d. kuno
4. Aliran dalam seni lukis yang menggambarkan obyek dengan semirip-miripnya dinamakan……………..
     a. naturalisme b. realisme c. impressionisme d. ekspressionisme
5. Basuki Abdullah dan Raden saleh adalah pelukis Indonesia yang menganut aliran……………….
     a. naturalisme b. romantisme c. ekspressionisme d. surealisme
6. “Keindahan dan kualitas karya seni tidak ditentukan oleh kesempurnaan bentuk ataupun kemiripan dengan obyek yang ada di alam, tetapi ditentukan oleh kebebasan pelukis di dalam mengekspresikan idenya tanpa terikat oleh aturan-aturan atau kaidah-kaidah tertentu”.Pernyataan di atas adalah pandangan yang dianut oleh para pelukis yang beraliran………………
     a. naturalisme b. romantisme c. ekspressionisme d. abstrak
7. Di bawah ini yang termasuk pelukis yang beraliran kubisme adalah…………
     a. Afandi b. Amri Yahya c. Vincent van gogh d. Pablo Picasso
8. Dengan mengamati dan mengkaitkan ciri-ciri seni lukis yang sudah kamu pelajari, contoh karya seni lukis di atas adalah beraliran………….
     a. naturalisme b. romantisme c. ekspresionisme d. surealisme
9. Lukisan di samping adalah potret diri
Pelukis ekspressionisme Belanda yang
Sangat terkenal yaitu…………
     a. Rembrant van Rijn
     b. Vincet van Gogh
     c. Antonio Blanko
     d. Pablo Picasso
10. Antara hidup dan mati, Pertarungan singa dengan ular, Banjir, Penangkapan pangeran diponegoro adalah judul-judul dari karya lukis yang beraliran…………..
     a. Realisme b. Romantisme c. Ekspressionisme d. Surealisme
11. Impressionisme adalah aliran dalam seni lukis yang menitik beratkan pada…………
     a. kemiripan bentuk b. kesan sinar c. tema sehari-hari d. garis dan warna
12. Monalisa adalah contoh karya seni lukis klasik yang sangat terkenal yang diciptakan oleh………..
     a. Micelangelo b. Leonardo da Vinci c. Le Mayeur d. S. Sujoyono
13. Aliran seni lukis yang lebih mengutamakan tema kehidupan sehari-hari yang apa adanya adalah aliran………..
     a. Naturalisme b. Realisme c. Ekspressionisme d. Impressionisme
14. Ditinjau dari coraknya, Candi Borobudur adalah contoh karya seni rupa peninggalan jaman
     a. Primitif b. Klasik c. Modern d. Tradisional
15. Obyek-obyek yang diangkat menjadi tema sebuah lukisan tidak hanya obyek-obyek yang ada di alam tetapi bisa juga hasil imajinasi pelukis di alam mimpinya. Aliran yang banyak mengambarkan dunia mimpi adalah aliran…………
      a. Naturalisme b. Realisme c. Surealisme d. Impressionisme
16. Contoh di samping adalah Lukisan Potret Diri karya Ekspresionis
Indonesia yang sangat terkenal Yaitu…………
      a. Dullah b. S. Sujoyono
      c. Basuki Abdullah d. Afandi
17. Gaya seni rupa yang munculnya dipengaruhi kemajuan tekhnologi modern dan pemikiran yang bebas. Tidak mau terikat dengan aturan dan norma tradisional adalah gaya……………
     a. kuno b. tradisional c. klasik d. modern
18. gambar di samping adalah contoh lukisan yang beraliran…
     a. naturalisme     b. realisme
     c. romantisme    d. impressionisme
19. Berdasarkan temanya lukisan di samping adalah mengangkat Tema kehidupan………….
     a. luar biasa        b. alam mimpi
     c. sehari-hari yang wajar dan biasa d. dekoratif
20. Lukisan-lukisan yang beraliran Romantisme pada umunya menampilkan tema …..
     a. luar biasa b. kehidupan sehari-hari c. berkesan magis d. spontan
21. Contoh lukisan di samping adalah salah satu hasil karya
Salvador Dali yang sangat terkenal dengan alirannya yaitu…
     a. realisme        b. ekspressionisme
     c. surealisme    d. impressionisme
22. Francisco Goya adalah pelukis yang banyak mengangkat tema-tema luar biasa yang penuh dengan ketegangan, Penderitaan, peperangan, suasana yang sangat mencekam Seperti pada contoh di samping adalah salah satu lukisan yang beraliran………
     a. romantisme    b. ekspressionisme
     c. surealisme     d. impressionisme
23. Ada suatu pandangan di kalangan para seniman modern “Bahwa suatu karya seni yang indah bukanlah yang menggambarkan keindahan seperti yang ada di alam, tetapi keindahan itu bisa diciptakan sendiri oleh seorang seniman dengan cara menyusun elemen-elemen seni yaitu garis, warna, bidang dan sebagainya yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk-bentuk yang ada di alam”. Pernyataan di atas adalah yang mendasari munculnya aliran…….
      a. Naturalisme b. Realisme c. Surealisme d. Abstrak
24. Perhatikan dengan cermat contoh gambar di samping!
Dilihat dari penampilan fisiknya, karya seni patung di samping dibuat dengan pertimbangan proporsi dan ilmu anatomi yang sangat sempurna dan ideal, bertema keagamaan. Karya tersebut diciptakan oleh Micelangelo pada zaman………..
      a. primitif b. klasik c. modern d. tradisional
25. Gambar di samping adalah contoh lukisan yang beraliran……
      a. realisme b. romantisme c. abstrak d. kubisme
26. Suatu kegiatan mengenali, mengamati, menikmati dan memberikan penilaian terhadap karya seni disebut……..
      a. apresiasi b. analisis c. observasi d. penelitian
27. Teknik dalam menggambar yang dilakukan dengan cara membuat goresan-goresan garis-garis dengan menggunakan pensil atau drawing pen sehingga menjadi bentuk yang diinginkan dinamakan teknik………
      a. dussel b. stipple c. arsir d. blog
28. Teknik dalam menggambar yang dilakukan dengan tinta yang dititik-titikkan dinamakan…
      a. dussel b. stipple c. arsir d. transparan]
29. Bidang yang digunakan sebagai media melukis yang terbuat dari kain dan dibentangkan dengan kerangka kayu sebagai media melukis dengan cat minyak dinamakan…
      a. sketsel b. easel c. kanvas d. hardboard
30. Gambar di samping adalah seni lukis yang biasa kita jumpai di jalanan kota-kota besar, di tembok jembatan, gedung dan sebagai yang mulanya adalah kreasi iseng dari anak-anak muda, karya seperti ini biasa disebut…….
      a. karikatur b. grafitti c. seni lukis abstrak d. vignette

 Sumber : http://izeaarfahdha.wordpress.com/2011/11/08/contoh-soal-ujian-seni-budaya-kelas-9/

Soal Seni Rupa Kelas 9 Semester 1

1.  Misalnya patung Asmat, arca batu, dan keris pusaka, dahulu untuk tujuan spiritual, tetapi sekarang banyak yang dibuat untuk hiasan.
1.
2.
3.
4.
2.  Tokoh seniman grafis Indonesia, antara lain...
1.
2.
3.
4.
3.  Istilah seni dalam bahasa latin disebut ....
1.
2.
3.
4.
4.  Adalah karya seni rupa yang memiliki fungsi ganda, yaitu selain untuk pemenuhan kebutuhan batin, juga untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari sesuai kegunaanya. Misalnya, meja, kursi, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga
1.
2.
3.
4.
5.  Seni yang dapat dinikmati melalui media pendengaran dan penglihatan disebut ...
1.
2.
3.
4.
6.  Di Papua, seni patung berkembang sejak lama di dalam suku-suku pedalaman. Seni patung Papua yang tersohor, di antaranya...
1.
2.
3.
4.
7.  Ragam hias berbentuk garis dan bidang dengan motif makhluk hidup
1.
2.
3.
4.
8.  seni adalah penciptaan segala hal atau benda yang karena keindahan bentuknya orang senang melihat dan mendengarnya, ini adalah pengertian seni menurut :
1.
2.
3.
4.
9.  Contoh Seni rupa murni daerah setempat, antara lain ...
1.
2.
3.
4.
10.  Seni lukis tradisional yang  masih hidup adalah  seni lukis Bali klasik yang disebut ...
1.
2.
3.
4.
11.  Berikut yang bukan merupakan penyebab perubahan fungsi seni adalah ....
1.
2.
3.
4.
12.  Objek wisata untuk kegiatan apresiasi karya seni rupa berupa patung dan relief adalah ...
1.
2.
3.
4.
13.  Motif geometrik banyak kita jumpai pada benda-benda karya seni ....
1.
2.
3.
4.
14.  Merupakan salah satu cabang seni rupa dua dimensi yang dikerjakan dengan teknik cetak sablon, cetak tinggi, cetak litho, dan cetak etsa
1.
2.
3.
4.
15.  Keunikan gagasan suatu karya seni rupa menyangkut unsur...
1.
2.
3.
4.
16.  Seni yang dapat dinikmati melalui media pendengaran disebut
1.
2.
3.
4.
17.  Adalah karya seni rupa yang memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi dan dapat dilihat nilai estetiknya dari berbagai arah. Misalnya, patung, meja, dan kursi.
1.
2.
3.
4.
18.  Huruf Arab yang ditulis indah disebut kaligrafi. Pada masa kerajaan Islam di Jawa, mulai berkembang pada masa Kerajaan ...
1.
2.
3.
4.
19.  Seni yang dapat dinikmati melalui media pendengaran (audio art),  contohnya :
1.
2.
3.
4.
20.  Merupakan karya seni rupa berwujud dua dimensi yang dalam penciptaannya mengolah unsur titik, garis, bidang, tekstur, warna, gelap-terang, dan lain-lain melalui pertimbangan estetik
1.
2.
3.
4.
21.  Misalnya teknik batik tulis untuk lukisan batik, lukisan keramik, lukisan bordir, teknik cor untuk karya seni hias logam, dan sebagainya.
1.
2.
3.
4.
22.  Setiap orang memiliki kebutuhan terhadap rasa keindahan, yang bisa didapatkan dengan cara
1.
2.
3.
4.
23.  Kegiatan melihat, mengamati, mengidentifikasi, membandingkan, menilai dan menghargai karya seni adalah ...
1.
2.
3.
4.
24.  Adalah karya seni rupa yang berwujud dua dimensi (dwimatra) atau tiga dimensi (trimatra) yang berfungsi sebagai nilai estetis yang terdapat di daerah setempat
1.
2.
3.
4.
25.  Seni dalam bahasa Inggris disebut art, bahasa Latin ars, bahasa Yunani Techne yang artinya ...
1.
2.
3.
4.
26.  Patung Asmat, arca batu, dan keris pusaka, dahulu untuk tujuan spiritual, tetapi sekarang banyak yang dibuat untuk hiasan. ini adalah proses pergeseran
1.
2.
3.
4.
27.  Teknik batik tulis untuk lukisan batik merupakan contoh perubahan fungsi ....
1.
2.
3.
4.
28.  Pada karya seni rupa purbakala, objek yang dipilih kebanyakan berupa bentuk ...
1.
2.
3.
4.
29.  Karya seni rupa tradisional yang terdapat di Indonesia umumnya menggunakan ragam hias sesuai kekhasan daerah masing-masing berupa ...
1.
2.
3.
4.
30.  Seni yang dapat dinikmati melalui media penglihatan dan raba disebut
1.
2.
3.
4.                           Sumber: http://www.proprofs.com/quiz-school/story.php?title=plihan-ganda